Sabtu, 26 November 2011

Berdua


“iya aku sudah tahu tempatnya, tak usah khawatir, aku baik baik saja” trek, segera kuputuskan panggilan dalam handphone ku lalu berbaring kelelahan diranjang, sejak tadi pagi aku sibuk mengurus barang barang yang akan kubawa saat liburan ke villa di bandung besok. Yah, tidak bisa dibilang liburan karena sebenarnya aku ingin menenangkan diri dari kesibukanku di jakarta, sejak tiga bulan ini aku terus bekerja keras menyelesaikan dua novelku, dan kini aku ingin istirahat sekaligus mencari inspirasi baru. Aku sudah membayangkan suasana divilla itu, hening, rindang, dan sejuk. Handphone ku berdering lagi, sekarang ada pesan masuk, “besok lusa aku akan menyusulmu kesana, miss you. Robby”. Aku tersenyum lega melihatnya, rasanya seluruh kecapekan di tubuhku lenyap dalam sekejap. Robby adalah kekasihku yang pertama, aku sangat mencintainya.
                Jam didalam mobilku menunjukkan pukul 11.00 malam, dan aku masih berada jauh dari villa tujuanku, butuh satu jam lagi untukku sampai kesana. Aku menghela nafas kesal mengingat kejadian tadi siang aku menerima pesan dari editorku untuk memperbaharui bagian klimaks dan penyelesaian dalam novelku, itu banyak membuang waktuku yang berharga, sehingga aku baru bisa pergi dari Jakarta pukul 9 malam, sebenarnya Robby melarangku pergi karena sudah terlanjur larut malam, tapi menurutku lebih bagus kalau bisa tidur di villa itu saja. Zruuuukk ban mobilku masuk kedalam lubang yang becek, “Sial! Kok malah disaat begini sih?”, dengan cepat aku menekan gas berkali kali dan hasilnya nihil, sepertinya ban mobilku masuk kedalam lubang yang dalam. Bagaimana ini? Sekarang aku berada didaerah hutan yang tak kukenali, sendirian ditengah malam.
                Aku tak berani keluar dari mobil, sambil menghela nafas aku melihat sekeliling. Tiba tiba aku melihat sesuatu yang berbunyi di pohon tepat disebelah kanan mobilku berhenti. Kriiiieeet kriiiieeet sepertinya itu bunyi tali tambang yang hampir putus, lebih dari 5 detik aku memperhatikan pohon itu, sepertinya aku hampir melihat sesuatu, karena sangat penasaran, aku mengambil senter yang berada dibelakang jok kursiku, dan meneranginya. Di pohon itu, aku melihat seorang perempuan memakai baju terusan abu abu dengan rambut tergerai panjang kedepan, mata yang masih melotot, dan wajah biru pucat yang telah membeku karena hawa dingin, tergantung dengan tali tambang dipohon beringin itu. Jeritanku tak bisa keluar. Mungkin jarakku tak sampai setengah meter dengan mayat tergantung itu, dari sini aku bisa melihat ekspresi sedihnya, seolah mengatakan “tempat ini tidak aman”. Seperti mendapat pertolongan dari Tuhan, ketika aku menginjak pedal gas sekali lagi, mobilku bisa jalan. Segera kukendalikan dengan kecepatan 75 km/jam.
                Air mataku terasa menetes, bayang bayang mayat tadi masih berbekas dipikiranku, ini baru pertama kalinya aku melihat mayat. Aku hanya menghela nafas berkali kali, menenangkan diri. Aku mencerna ini dalam pikiranku, “tidak apa apa, mungkin ia hanya bunuh diri karena dikejar kejar rentenir”. Setelah menyetir selama setengah jam, ada polisi yang menghentikkan dan menghampiri mobilku. “tolong tunjukkan SIM anda” aku menyerahkan SIM ku sambil menggerutu dalam hati “malam malam begini kok ada razia”. Oh iya, aku teringat dengan mayat tadi, harus kuberitahukan pada polisi, “pak.. dihutan belakang tadi ada…” belum selesai aku bicara ia menyela, “mbak berdua mau kemana?” aku heran dengannya, “berdua? Aku kan Cuma sendirian” “sendirian? Lho bukannya ada cewek dibelakang kamu?” aku tersentak dengan perkataannya, dan tak berani menoleh kebelakang. Segera kuinjak pedal gas ku dan kutinggalkan polisi itu bersama SIM ku, tak kupedulikan ia memanggilku. Akhirnya aku sampai divilla tujuanku, aku tak berani melihat kearah mobilku lagi, segera kumasuki kamarnya dan menutup mata dengan paksa, berharap yang terjadi hanya mimpi yang bisa dilupakan.
                Tidurku tak begitu nyenyak, ketika terbangun masih jam setengah tiga pagi, hujan deras serta diikuti petir yang dahsyat terjadi diluar, petir membuat jendela besar yang berada tepat disamping ranjang tempatku sekarang berbunyi keras seperti akan didobrak. Tiba tiba aku melihat pintu kamarku terbuka lebar, padahal tadi sebelum tidur aku ingat bahwa aku telah menutupnya, terdengar bunyi air keluar dari kran bak mandi dengan deras. Perasaan takut mulai berkecamuk dalam dadaku, seperti guntur sekarang, irama degup jantungku terdengar sama kerasnya dengan suara petir. Aku ingin memeriksanya, tiba tiba terdengar petir yang sangat kuat dan dahsyat, membuat ruangan yang gelap ini menjadi terang benderang, tapi sepertinya ditengah suasana terang yang tak lebih dari satu detik tersebut aku melihat sesuatu di denjela, sebuah bayangan. Yah, aku dengan jelas melihatnya. Seketika aku menoleh kebelakang, karena gelap tak telihat apa apa dijendela. Sekali lagi petir yang dahsyat berkecamuk, membuat yang kulihat tadi terlihat lagi, kali ini tepat didepan mata. Aku melihat mayat gadis yang kutemui dihutan tadi, tergantung di ujung jendela atas. Membuatku bisa melihat wajahnya dari ruangan.matanya menatap tajam kearahku, seperti menimbulkan sebuah teror.
                Segera kuambil langkah seribu menjauhi pemandangan itu, aku harus lari, tapi tanpa arah dan tujuan, aku tak bisa masuk kedalam mobilku lagi karena kejadian tadi. Aku benar benar harus lari, sepertinya aku memang dikejar kejar setan, aku sering melihatnya ditv, tapi ini kenyataan dan aku sendiri yang mengalaminya. Setelah berbelok menuruni tangga, aku seperti menabrak orang, aku tahu tidak ada siapa siapa di villa ini kecuali aku, aku tak sanggup melihat apa yang kutabrak, aku menutup mataku dan menjerit. “viona! Viona! Kau baik baik saja?” aku mengenali suara itu lalu membuka mataku, “Robby?” “Viona, kau baik baik saja? Wajahmu pucat” ia memegang wajah dan menghapusa air mataku, aku tak bisa menjawab pertanyaannya, karena aku yakin pasti Robby tak kan percaya. Ia menaruh handuk dipundakku dan membuatkanku coklat panas. Jujur saja aku sangat lega sekarang, ditemani dan dihibur oleh orang yang kucintai setelang mengingat kejadian buruk yang kualami barusan.
                “bukannya kau akan kesini besok?” “aku khawatir, karena kamu pergi malam malam begini, jadi aku menyusulmu” “terima kasih”, ia duduk disampingku dan mulai bertanya dengan serius, “sebenarnya apa yang terjadi selagi kau masih sendirian disini tadi?” aku tahu ia ingin aku bicara jujur, tapi aku tak bisa berkata seperti ada mayat yang mengikutiku sampai sini, aku hanya bisa berkata “aku tadi mimpi buruk, maaf sudah mengejutkanmu”. Ia menatap wajahku, ia tahu kalau aku berbohong, tapi ia hanya tersenyum lega dan memahamiku. Robby benar banar pengertian,aku sangat mencintainya. Tak ingin ia jauh dariku.
                Matahari sudah terbit dari arah timur, aku lega hari sudah terang. Lalu aku mendapati Robby sedang memasak sarapan untukku, aku menghampirinya dan berkata, “sudah bisa jadi calon suami yang baik rupanya” sadar bahwa aku menggodanya, ia menyela “calon istri yang baik juga tak akan lupa mandi sampai jam delapan” aku melihat jam dinding, benar sudah pukul 8 lewat 5 pagi. “baik, aku mandi dulu”. Perasaan takut semalam sekarang sudah kulupakan, berharap bahwa itu hanya imajinasiku. Aku melewatkan 10 menit dikamar mandi, tiba tiba aku mendengar suara pukulan dan dentuman keras dari luar, karena kaget dan penasaran aku cepat cepat memakai baju dan berlari kearah suara.
                Lalu hatiku terasa hancur, seperti dipukul dengan palu besi oleh orang terkuat sedunia, aku terduduk melihat pemandangan itu, tak terasa air yang asin sudah mengalir sampai keleherku. Aku melihat Robby sudah tergantung di langit langit dengan mengenaskan, semua tubuhnya bengkak membiru, matanya masih melotot seolah memperhatikanku dalam diam. Aku hanya bisa menjerit, menjerit sekuat tenaga dan menangis meraung raung. Apa yang terjadi? Bagaimana bisa? Siapa yang melakukannya? Beribu ribu pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku, hatiku makin lama makin hancur ketika pertanyaan itu bertambah satu. Tergantung, aku yakin ini ulah setan itu, memang tidak logis kalau setan membunuh manusia, tapi yang harus kulakukan sekarang adalah membunuh orang yang sudah membunuh Robby, ia sangat berharga bagiku. Ia selalu ada untukku, melindungiku, serta memberiku semua tentang kebahagiaan. Ya, benar, Robby sangat berharga bagiku. Perasaan sedih ku kini berubah menjadi marah, dendam, dan benci.
                Aku berdiri tegak dengan sorot mata yang tajam, lalu berkata, “keluar kau! Apa yang kau inginkan!?” aku sudah tak takut, aku benar benar tidak takut. “keluar kau setan sialan!” lalu semua ruangan yang terang kini menjadi gelap, pintu pintu dan jendela jendela yang tebuka kini tertutup dengan kasar. Aku hanya memperhatikannya, lalu ia muncul didepanku dengan bangganya ia berkata “apa yang kuinginkan katamu? Aku sudah berusaha mengusirku sejak berada dihutan itu, Kalian para manusia hanya menggangguku, kini kau yang akan mati karena villa ini sangat berharga bagiku, tidak ada seorangpun yang boleh menempatinya” ia menjulurkan tangan dan ingin mematahkan leherku seolah ingin menarikku kedunia sana, kedunia yang telah Robby lalui. Tapi aku tak akan membiarkan itu, katanya villa ini sangat berharga baginya, sekarang aku juga akan merebut yang berharga bagimu, sambil berlari dan mengelak aku mengambil kursi dan melemparkannya ketabung gas, seketika itu juga tabung itu meledak dan membuatku terlempar sejauh 3 meter, tapi aku masih bisa berlari, menyeret nyeret kakiku yang patah. Aku berhasil meloloskan diri dari villa yang terbakar itu, dan membiarkan mayat Robby juga terbakar dari kejauhan aku mendengar jeritan wanita dalam api. Sungguh mimpi buruk yang teramat buruk.
                Aku berjalan sejauh setengah kilometer dengan luka luka yang parah, darah mengalir deras dari kepalaku, lalu aku melihat polisi yang waktu itu meraziaku, dengan lega aku menghampirinya. Polisi itu kaget melihatku dan berkata, “kalian berdua kok terluka?”

Black Umbrella


Diawal minggu dan pada pertengahan musim hujan, semua orang sibuk dengan kegiatan masing masing, berlari menuju kelas saat bel masuk dibunyikan, membentuk kelompok belajar masing masing dan belajar saat jam pulang, sampai berlari mengejar guru untuk menanyakan nilai ujian tengah semester. Tak ada seorangpun yang menyadari kehadiranku, kecuali orang orang yang menyedihkan, tak punya usaha dan tak punya pilihan. Aku selalu menunggu mereka dibelakang gedung utama sekolah, saat hujan , dengan memakai payung hitam. Tapi sengaja menemuiku bukanlah pilihan yang tepat karena kau tak akan bisa hidupmu tenang, terus dihantui rasa ketidakpuasan.
***
                Gawat, gawat! Masih sempat tidak ya?, sekali lagi aku melihat arlojiku yang menunjukan pukul tujuh lewat dua menit, dadaku sudah semakin sesak karena terlalu lama berlari. Saat sudah sampai didepan ruang kelas, saking paniknya aku membuka pintu dengan kasar, membuat semua anak anak dikelas termasuk pak guru terkejap melihatku. “Mamat! Kau sudah terlambat tiga kali berturut turut dalam minggu ini! berdiri di diluar kelas selama dua jam!” teriakan pak guru diikuti seluruh gelak tawa anak anak dikelas, ada yang mengejek, dan ada pula yang melihatku dengan pandangan ‘merendahkan’. Dengan terpaksa aku berdiri diluar kelas. Semua anak kelas membenciku, setidaknya aku berpikir begitu setelah semua yang mereka lakukan padaku, mencoret coret dan merobek buku catatanku, mengguyurku dengan kuah bakso, sampai memerasku setiap pulang sekolah. Karena lemah dan bodoh aku tak bisa melawan mereka, aku hanya mengikuti kata kata mereka yang semakin hari semakin menjadi jadi. Aku sengaja datang terlambat kesekolah karena tak mau bertemu rombongan anak anak yang selalu menjahiliku. Tapi saat istirahat dan pulang sekolah, tetap saja bertemu. Namaku yang sebenarnya pun Rachmat, tapi mereka memanggilku Mamat karena terkesan seperti laki laki bodoh, sampai pak guru juga memanggilku begitu.
                “hei, kau sudah dengar? “ aku sadar dari lamunanku ketika mendengar dua siswi sedang melewatiku sambil berbincang bincang, “soal apa?” Tanya seorang siswi yang rambutnya diikat, “katanya tahun ini gadis hujan muncul lagi”
“gadis hujan? Apa itu?”
“kamu tak tahu ya? Gadis itu selalu menunggu mangsa yang menghampirinya dibelakang gedung sekolah, ciri khasnya adalah dia memakai payung berwarna hitam dan rambut hitam yang panjang, ia juga memakai baju seragam sekolah seperti kita. Ia hanya muncul sepuluh tahun sekali selama musim hujan, ia datang untuk mengabulkan permintaan murid murid, tapi hanya orang tertentu yang bisa melihatnya, juga akan berubah seperti setan, dia seperti hantu yang suka mengganggu dan mengutuk” kata gadis satunya lagi yang berbicara seperti sedang menakut nakuti.
“ih seram ya”
                Gadis hujan? Memangnya ada yang seperti itu? Pikirku. Pak guru keluar dari ruangan dan menyuruhku masuk setelah dua jam. “mat, nanti pulang sekolah bantu bapak memindahkan dokumen dokumen sekolah ke gudang ya” pintanya, “ba.. baik, pak”. Bel pulang sekolah sudah berbunyi, secepat kilat aku meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah katapun, lagipula aku tak punya teman, jadi tak ada seorang pun yang bisa kuajak bicara. Aku menemui pak guru dan membantunya memindahkan dokumen dokumen yang tebal dan berat, harus kubawa kegudang sekolah yang minta ampun jauhnya, kaki dan tanganku lemah, jadi aku mulai terasa capek setelah setengah perjalanan, tiba tiba hujan deras datang mengguyurku dengan cepat, benar juga ini musim hujan, pikirku. Segera kupercepat langkahku agar dokumen yang kubawa tidak basah, tapi tiba tiba aku tersandung sesuatu, membuatku jatuh kedalam kubangan dan dokumen yang kubawa berhamburan, ternyata ada seutas tali panjang yang dipasang untuk membuatku jatuh. “hahaha! Jatuh ya? Sakit kan?” seru seorang anak laki laki bertubuh tinggi mengejekku, sepertinya mereka yang sengaja memasang tali ini. aku menatap mereka dengan tatapan benci, “apa apaan kamu menatap kami begitu! Sepertinya kau mulai jadi anak kesayangan pak guru, biar kuhancurkan dokumen ini agar kau dimarahi pak guru!” serunya dengan menginjak injak kertas kertas itu, diikuti teman temannya, “hya hahaha!” mereka tertawa seperti setan. “tidak! Kumohon jangan” pintaku. “cerewet!” katanya, lalu ia mengayunkan tinju yang mengenai perutku, seketika aku terduduk kesakitan. “lain kali kau harus menurut pada kami, kau sengaja menjauhi kami, kan”, lalu mereka pergi dengan santainya, menyisakkan sakit dan luka diperut juga hatiku.
Dengan terbata bata aku mengumpulkan dokumen yang kotor itu, aku harus bilang apa pada pak guru?. Tiba tiba muncul sebuah tangan yang memberiku kertas kertas dokumen itu, aku melihat keatas untuk memastikan siapa yang melakukannya, ternyata seorang anak perempuan. “ini” katanya, “terima kasih” kataku, lalu aku terkejap saat melihat semua dokumen itu bersih dan bagus lagi, seperti tak ada tanda tanda diinjak sebelumnya, kenapa bisa begini? Mana mungkin anak perempuan tadi menyihirnya hingga bagus kembali. Aku tersadar, anak perempuan tadi memakai payung berwarna hitam, dengan rambut hitam panjang, mugkinkah dia?, tapi saat aku melihat kearah dia, anak itu sudah hilang, lalu ada sebuah tulisan dengan pensil dikertas itu yang sebelumnya tak ada disana, seketika aku membacanya, gapailah semuanya sekarang, saat hujan temui aku dibelakang gedung sekolah, ambilah semua yang bukan milikmu. Ternyata benar, ia adalah gadis hujan. Aku harus menemuinya.
                Aku membiarkan diriku diguyur hujan saat berjalan menuju gedung belakang sekolah, dan aku melihat gadis itu lagi, menatapku dengan tatapan kosong dibalik payuh hitamnya yang besar. “kau datang?” tanyanya., aku hanya mengangguk gugup. “apa permintaanmu?” tanyanya lagi, “apa?” tanyaku balik. “semua orang yang melihatku pasti punya permintaan, percayalah aku bisa membuat itu menjadi kenyataan”. Permintaanku? Aku berpikir dalam hati bahwa aku adalah anak laki laki yang bodoh, lemah, jelek dan bertubuh pendek, juga berbagai kekurangan lainnya. Dengan cepat aku menjawab, “aku ingin jadi lelaki yang sempurna!” pintaku. “tepat” katanya, lalu mengeluarkan asap dari tangannya dan memasukannya ke dalam mulutku dengan paksa, aku kaget dan sedikit merasa kesakitan, setelah ia berhenti ,aku terduduk kesakitan. “a.. apa yang kau masukan kemulutku?” tanyaku takut, “sekarang kau sudah menjadi yang kau inginkan”, katanya. Aku merasakan kaki dan tanganku terasa nyaman dan keras, membuatku ingin mengujinya. Dan aku bisa berlari dengan cepat, cepat sekali dan tak merasa capek, lalu aku menguji tanganku dengan memukul sebatang pohon, seketika pohon itu tumbang dengan sempurna. Aku benar benar sangat kaget, inikah yang dinamakan kuat? Lalu aku merasakan seluruh otakku diisi dengan rumus rumus fisika, matematika, dan kimia. Dan aku bisa merasakan pengetahuan pengetahuan merembes masuk keotakku, inikah yang dinamakan kepintaran?, “kau sudah puas?” katanya, “temui aku disini lagi besok”, lalu aku melihatnya menghilang dalam kegelapan hujan.
                Aku tak bosan bosannya melihat ke cermin dan bergaya, inikah yang dinamakan ketampanan?. Kalau aku berjalan seperti biasa menuju kekelas, semua anak cewek memperhatikanku dengan tatapan suka, diikuti dengan jeritan memanggil namaku, saat ujian fisika berlangsung, aku bisa mengerjakannya dengan lancar, padahal kemarin aku sama sekali tidak belajar. Hebat, gadis hujan itu benar benar hebat. Rombongan anak anak nakal menarik tanganku segera setelah bel pulang sekolah berbunyi, “apa yang terjadi? Kenapa kau dipuja puja cewek? Sepertinya hukuman kemarin tak cukup bagimu” lalu ia mengayunkan tangannya untuk meninju pipiku, tapi kali ini aku bisa melihatnya, terlihat sangat lamban, dengan cepat aku menangkisnya, dan kembali memukul, membuat ketua rombongan itu terlempar dan kepalanya membentur dinding, mereka semua terkejut dan dengan kesal mau mengeroyokku, tanpa sadar setelah beberapa detik kemudian, mereka semua tergeletak babak belur, apakah aku yang melakukannya? Ya, benar. Sekarang aku benar benar kuat, tak terkalahkan, aku ingin jadi lebih kuat dan lebih sempurna. Semua pikiranku teracuni, aku tak tahu lagi mana yang benar, sekarang aku ingin membalas semua orang yang sudah menyakitiku, hanya dengan sedikit gerakan, mereka semua babak belur, menyenangkan sekali rasanya.
                “ini tidak bagus” kata seorang gadis yang tiba tiba muncul dihadapanku, ternyata gadis hujan, tentu saja dengan masih memakai payung hitam. “apanya yang tidak bagus?” tanyaku, “kau lihat? Aku kuat! Aku pandai dan tampan! Tak ada yang bisa mengalahku”
“tapi kau sudah menghajar lebih dari 30 orang! Hentikan semua ini” katanya, “aku tidak bisa, aku harus membalas apa yang mereka lakukan padaku”. Lalu gadis itu mendekatiku dengan cepat, lalu tangannya dimasukannya kedalam mulutku dengan paksa dan mengeluarkan asap yang wujudnya sama seperti kemarin. “apa yang kau…!” “aku sudah mengambil kesempurnaanmu, ternyata semua orang sama saja” katanya, “apa maksudmu?” tanyaku dengan nada marah, “kau tetap kau! Tetap menjadi orang yang lemah, jelek, dan bodoh! Mamat yang bodoh, kau tidak bisa berubah, aku tak bisa membiarkanmu berbuat sesukamu”, katanya. Aku benar benar tersinggung dengan ucapannya, “baik! Aku akan membuatmu menarik kata kata mu! Aku tidak menyedihkan seperti yang kau ucapkan!” lalu aku berlari pulang dengan kondisi tetap basah karena hujan, karena hujan tidak ada yang bisa melihatku menangis. Dia benar, aku menyedihkan, aku yang bodoh dan lemah ini tiba tiba jadi buta karena kekuatan, aku tak berhak untuk itu. Tapi merasakan kalau diri kita sempurna itu menyenangkan sekali. Lalu aku berpikir, kenapa aku tak berusaha untuk mencapai itu? Selama ini aku menganggap diriku tidak istimewa dan tak pernah berusaha, tapi kali ini lain, aku punya semangat yang lain, ya aku akan mencapai semua itu.
                Tiga hari kemudian hasil ujian matematika dibagikan dan aku mendapat nilai 70, yang biasanya 40. Saat lomba lari untuk ujian olahraga , aku mendapat urutan ke-3 yang biasanya ke-10. Aku benar benar puas, inikah yang dinamakan usaha yang berhasil, ada kepuasan tersendiri yang hanya bisa dirasakan setiap orang, bukan karena disihir untuk menjadi itu. “kelihatannya kau tak begitu kuat lagi sekarang, aku tak tahu dari mana kau dapatkan kekuatan itu sebelumnya, tapi gara gara kau, aku mendapat luka 8 jahitan dikepalaku, kau harus tanggung akibatnya” ancam salah satu dari mereka, mereka mengajakku kebelakang gedung sekolah, mereka ingin menghajarku. Tapi kali ini rasanya aku bisa melawan, berkat masuk anggota taekwondo sejak tiga hari lalu, aku merasa bisa melawan mereka, setiap kali mereka berhasil meninjuku, aku membalasnya, hasilnya kami semua babak belur, saat mereka berlima pingsan dan aku juga hampir pingsan karena sepertinya luka luka ku jauh lebih parah dari mereka, aku merangkak rangkak mencari pertolongan, tapi tidak bisa, mataku kabur dan seluruh tubuhku terasa amat sakit sampai tak bisa bergerak lagi, hasilnya aku pingsan setelah agak jauh merangkak. Dalam pandangankuyang kabur, aku bisa melihat gadis hujan mengampiriku dengan payung hitamnya, ia menanamkan ujung payung itu didekatku agar aku tak basah karena hujan, lalu ia berbisik ditelingaku,
“hanya sekali ini saja, kau tidak boleh terkena hujan, hujan itu sangat menyakitkan, kau tahu?”
. Setelah menanamkan payungnya ditanah dekat aku berbaring, ia berdiri melawan hujan sambil melihat keatas, lalu ia menghilang . Aku ingat lanjutan kata kata dua orang siswi yang berbincang beberapa hari yang lalu. Katanya gadis hujan tak akan bisa muncul lagi tanpa payung hitamnya. Lalu demi aku dia meninggalkan payungnya dan menghilang? Apa aku sebegitu penting dimatanya.
                Seminggu setelah kejadian itu, payung itu tetap kusimpan dirumahku, aku selalu memakainya saat hujan. Saat ini aku sudah merasa sempurna, begitu mudah meraihnya kalau mau berusaha, tidak bergantung pada sihir yang tak mungkin bisa dipercaya. Hujan terus turun sejak tadi pagi, aku mengeluarkan payuh hitam itu dan memakainya untuk pulang kerumah, lalu tepat disampingku aku melihat gadis hujan itu, tersenyum puas kearahku. Selama aku memakai payung ini, aku bisa terus bertemu dengannya, tidak harus dibelakang gedung sekolah dan menunggu 10 tahun lagi.

The Biggest Firework


“yah, apakah kali ini Ako berhasil mengalahkan lawannya kurang dari 30 detik seperti yang ia lakukan minggu lalu?” suara sang pembawa acara diikuti jeritan para penonton lainnya, mereka menari memperagakan yel yel yang sudah mereka latih dari jauh jauh hari sambil menyerukan nama Ako. Dari sudut bangku penonton yang terpaut sangat jauh aku sangat memperhatikan dirimu dengan cemas juga bahagia, aku mulai menggemari Ako sejak setahun yang lalu, waktu itu aku menemani pamanku yang ingin sekali menonton pertandingan, saat itulah ia tampil dengan kerennya di pertandingan kejuaraan karate wanita tingkat kota, tanpa disadari aku sangat mengaguminya, caranya meninju, menendang juga membanting lawannya dengan sempurna itu, apalagi diiringi dengan senyum sinis dan lirikan merendahkan yang ia tujukan pada lawannya yang kalah, membuatku seluruh tubuhku gemetar saking kagumnya.
            Bel sudah berbunyi dari 10 menit yang lalu, belum ada tanda tanda guru akan masuk dan memulai pelajaran “apa sebaiknya aku panggil pak guru, ya?” tanyaku kepada seorang teman sekelas yang duduk dibelakangku, sebagai ketua kelas, aku merasa mempunyai tanggung jawab untuk ini, “tidak usahlah, bentar lagi pasti juga masuk, soalnya pak guru itu selalu bersemangat kalau mengajar pagi, kan” katanya sambil membalik balikkan majalah olahraga dengan bosan, “eh Jiro, siang nanti kita ada tanding futsal dengan anak sebelah, kamu ikut ya” ajak temanku yang satunya, Keiji. Aku mencoba menolaknya dengan halus agar ia tidak tersinggung, “maaf hari ini, aku ada les” kataku
“lagi? Kapan sih kau mau bermain dengan kami? Sebagai ketua kelas kan mestinya sekali kali kau mengiyakan ajakan anak buahmu” kata Keiji dengan kesal
“sudahlah Kei, Jiro kan memang tidak suka olahraga” celetuk temanku yang satunya.
“masa sih? Semua laki laki normal kan suka olahraga” Keiji mengejekku seperti biasa. Dalam hati aku kesal dan berpikir mereka benar benar tak tahu tentang aku, aku juga sebenarnya sangat malu kalau berkata sedang menggemari atlit karate wanita remaja yang bernama Ako, dan saking sukanya sejak bulan lalu aku mengikuti klub karate dikota dan mereka tak mengetahuinya.
            sreg bunyi pintu kelas dibuka dengan pelan seperti biasa oleh pak guru kami, namun pak guru sedang menggiring seorang anak perempuan masuk, sepertinya murid baru. Semua mata anak anak kelas tertuju pada wanita itu, ia menatap seluruh isi kelas dengan tatapan dingin, bola matanya yang kecoklatan dan berkilauan menambah kesan “dingin” nya. Anak perempuan itu bertumbuh agak tinggi, berkulit putih pucat, dengan rambut hitamnya yang diikat satu seperti ekor kuda.
“apa apaan sih anak baru itu? Baru masuk tatapannya sudah tak sopan begitu” bisik teman sebelahku.
“tapi, dia lumayan cantik, kok” bisik temanku lagi.
Saat itu aku benar benar kaget, seolah sedang berjalan diudara dan menemui  bunga yang bisa bicara, seperti mimpi. Kau tahu? Anak perempuan itu adalah Ako Kobayashi, atlit karate wanita yang sekarang sedang tenar karena berturut mendapat medali emas karena ketangguhannya itu, dan wajar seluruh teman sekelasku tidak mengenalnya,pertandingan karate jarang dimuat di TV dan yang mempublikasikannya paling paling majalah olahraga, namun teman laki laki dikelasku hanya membaca majalah olahraga sepak bola, kalau yang perempuannya hanya membeli majalah cewek, aku berani bertaruh kalau mereka tak pernah menyentuh majalah olahraga. Namun aku yang saat ini sedang dilemma mengenai apa yang harus kulakukan, aku ingin sekali berteriak “waah! Ako!” tapi kutahan karena hobi ku menonton kejuaraan karate wanita yang kuangaap memalukan itu bisa bisa terbongkar, jadi aku memilih untuk diam saja dan tetap stay cool.
“Nah Ako, coba tuliskan namamu dipapan tulis agar temanmu bisa menghafal nama lengkapmu” suruh pak guru sambil memberikan spidol
Ako menulis namanya dengan besar dan kasar, tapi saat dilihat, tulisannya benar benar jelek seperti anak 10 tahun belajar menulis dengan tangan kiri, alhasil semua teman teman dikelas tertawa geli dan mengejek “ternyata wajah memang tak sebagus keahlian ya” seru seorang anak laki laki bertubuh pendek gendut dan memang terkenal suka mencela. Ako tak menghiraukan ejekannya dan terus menulis, tetapi setelah ia menyelesaikannya dan pak guru yang juga tertawa tadi meminta spidolnya kembali, ia malah melemparkannya kebelakang dengan kasar. Semua isi kelas ternganga melihatnya, tak ada yang berani tertawa setelah melihat tatapan lebih sinis dari sebelumnya, ia berjalan cepat dan membanting tasnya kesamping kursiku yang kosong, lalu duduk dengan kasar. Sepertinya teman sekelas yang lain tak berani lagi menertwakannya kalau melihat sifatnya yang kasar ini.
            Ditengah pelajaran saat kejadian tadi sudah dilupakan oleh sebagian teman sekelas dan pak guru tetap menerangkan seperti biasa, aku mencoba untuk menyapa Ako, wanita yang kugemari itu.
“hai, aku ketua kelas disini, kalau ada yang tidak kau ketahui kau boleh Tanya denganku” kataku sambil tersenyum ramah, namun ia melihatku dengan tatapan sinis selama tiga detik, lalu berpaling dan menidurkan kepalanya. Aku benar benar bingung, ternyata memang sifatnya seperti ini, pikirku. Tiba tiba ia memanggilku “hei ketua kelas” katanya
“a.. apa?” tanyaku yang sedikit kaget
“kasih tahu kepada anak jelek dan gendut itu, kalau berani berkata begitu lagi aku akan merontokkan gigi gigi nya” katanya sambil tetap menidurkan kepala yang sedang tidak menghadap kearahku. Tangan ku terasa gemetar dan mengucurkan keringat dingin “o.. oke” kataku, entah apa yang terjadi padaku juga kalau menasihatinya saat itu.
            Sudah seminggu sejak kepindahan Ako disekolahku, aku memang membaca artikel tentang dirinya yang pindah ke Shimizu karena ikut bibinya, namun tak kusangka ia bisa sekelas denganku. Dikelas, Ako tak mau berbincang dengan siapa siapa, sebelumnya anak anak cewek dikelasku pernah menyapanya, namun selalu tak ia hiraukan, ini membuat ia semakin dibenci dikelas, tatapannya yang sinis itu menjadi nilai minus bagi guru guru lainnya, Ako dianggap anak yang tidak sopan. Suatu hari, ia pernah dihampiri oleh kakak kakak perempuan kelas tiga, rupanya ketidak sopanan Ako sudah menjadi buah bibir sampai kesenior, mungkin mereka mau menantang Ako, mereka juga merupakan anak nakal yang selalu membuat onar, meskipun perempuan mereka sering terlibat berkelahi dengan laki laki, merokok, membawa pisau dan semacamnya, namun mereka yang juga ditakuti oleh seluruh sekolah itu seolah tak berdaya ketika berkelahi dengan Ako, mereka berlima seketika itu juga tumbang dengan sempurna, terang saja Ako merupakan juara pertandingan karate.
“kalian sendiri yang minta, ya” katanya sambil meninggalkan kelas, karena ulahnya, Ako mendapat skors selama satu minggu, anak anak lain beerkata senang mendengarnya dan berharap ia cepat cepat dkeluarkan dari sekolah ini, namun pemikiran mereka berbanding terbalik denganku.
            Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, aku menyetir mobilku dengan kecepatan biasa melewati jalan biasa, namun aku melihat ada keributan ditaman kota, dari sini aku melihat belasan orang disana, seperti sedang berkelahi, aku menghentikkan mobilku dan melihat Ako sedang melawan lebih dari 15 anak laki laki, sepertinya mereka akan berkelahi, entah apa yang dilakukan Ako sehingga membuat mereka marah, namun aku yang cemas dan hanya bisa melihat orang yang kucintai dari jauh Cuma bisa berdoa agar dia selamat, aku tidak bisa terlibat dalam perkelahian karena aku lemah.
            Aku melihat wajah Ako yang tenang dan dingin seperti biasa, lalu dengan cepat dan tepat ia menyerbu dan menyerang, satu persatu anak laki laki itu tumbang dengan darah bercucuran, ia menendang, memukul, meninju, juga melompat dengan sempurna, meskipun kelihatannya lawannya itu memakai senjata , namun tak satupun yang berhasil mengenainya, aku benar benar berdecak kagum, saat melihatnya berkelahi, ia selalu terlihat sedang menari dengan anggun dimataku. Tiba tiba, sebuah kayu besar yang dipakai oleh anak laki laki bertubuh besar mengenai kepala Ako, itu membuatnya mengeluarkan darah. Oh tidak, kataku dalam hati, aku benar benar cemas. Tetapi Ako sama sekali tak terlihat kesakitan, ia dengan gesit membanting laki laki besar itu dengan sempurna. Sekitar lima menit kemudian semua lawannya tumbang, ia berdiri seorang diri disana seperti pahlawan, sangat keren, ia meloncat dan duduk diperosotan taman, sambil tersenyum sinis seolah merendahkan.
            Sudah tiga hari Ako tidak masuk sekolah tanpa kabar, untuk menolongnya aku membuat surat izin palsu karena aku yang mengatur absen, jikalau ada tugas, aku selalu membuat double seolah olah yang satunya milik Ako, saat mengumpulkannya aku selalu berkata begini pada guru, “ini tugas Ako, ia menitipkannya padaku” karena aku merupakan murid yang baik, jadi guru tak akan complain dengan apa yang aku kerjakan. Besoknya Ako masuk seperti biasa dengan tampang sinis yang juga seperti biasa, saat guru minta tugas matematika dikumpulkan, aku juga mengumpulkan punya Ako agar ia tidak dimarahi, namun sepertinya ia tak peduli.
            Malam itu sepulang dari les aku menunggu jemputan pamanku karena mobilku sedang diperbaiki dibengkel, saat itulah Ako muncul “jadi kau kursus disini ya” katanya dengan tenagng dan meskipun sudah membuatku kaget. “iya, kau sedang apa disini?” tanyaku.
“aku sudah lama menunggumu, ayo ikut aku” ajaknya sambil menarik tanganku. aku mau ia bawa kemana? Apa ia mau menantangku berkelahi? Pikirku dengan takut takut, diluar dugaan tangannya sungguh halus, padahal kupikir ia memiliki tangan yang cukup kasar karena keseringan meninju orang. Ia membawaku ketaman belakang Kursus, tempatnya sungguh tenang, karena tempat itu merupakan bukit yang cukup tinggi, jadi semua pemandangan dikota, lampu jalan, lampu gedung sampai lampu kendaraan terlihat jelas dari bukit ini, belum lagi ditambah penerangan bintang bintang yang berkelap kelip. “wah, indah sekali disini” kataku dengan kagum.
“aku selalu kesini setiap malam” kata Ako
“oh ya? Sendirian?” tanyaku
“iya, aku menemukan tempat ini baru baru ini, saking nyamannya disini, aku selalu ketiduran dan terlambat kesekolah, karena itulah aku sering tidak masuk sekolah, terima kasih ya sudah membuatkan tugasku dan membuat surat izin palsu” katanya sambil tersenyum, diluar dugaan ia juga bisa tersenyum seperti anak perempuan lainnya.
“dari mana kau tahu kalau aku yang membuatnya?” tanyaku
“kau juga kan yang mengawasiku saat berkelahi ditaman, mudah bagiku untuk menebaknya” katanya.
“ngg… maaf kalau aku membuatmu tak nyaman, lain kali aku…..”
“sstt..” ia memotong perkataanku, “jangan bicara terus, nanti kita tak bisa mendengarnya” katanya
“mendengar? Mendengar apa?” tanyaku dengan bingung
“kembang api, anak anak kota selalu meluncurkan kembang api setiap malam, kita bisa melihatnya dengan jelas disini, indah sekali” katanya dengan mata yang berbinar binar menunggu menatap langit. Tak lama kemudian kembang api benar benar muncul, diiringi dengan bintang yang semakin banyak juga cahaya gedung, warnanya indah sekali, mulai dari hijau, merah, biru, juga kuning, pemandangan indah yang tak akan kulupakan seumur hidupku.
“indah kan? Bagus kan? Kalau melihat kembang api, aku selalu tambah semangat, aneh ya, haha” katanya sambil tertawa, aku benar benar beruntung malam ini bisa melihat pemandangan indah bersama perempuan yang kucintai.
“kau suka kembang api ya? Kenapa tak bilang dari dulu? Pamanku punya usaha kembang api, akan kuperlihatkan kembang apii yang jauh lebih bagus dari ini, tunggu disini tiga hari kedepan ya” kataku sambil pergi dan melambaikan tangan.
            Dikelas, aku yang semakin akrab dengan Ako membuat semua teman heran, begitu juga dengan guru, teman temanku juga sekarang jarang mengejekku karena takut dengan Ako.
“malam ini akan kutunjukkan kembang api yang dahsyat, kau harus tunggu ditempat dan jam yang sama” kataku, ia tersenyum
            “mengerti, paman? Kalau kukirim sms kosong itu tanda bahwa paman harus meluncurkan kembang apinya segera ya”, aku menyuruh pamanku menunggu dijalan dimana kembang apinya bisa terlihat oleh aku dan Ako dibukit itu, aku dan pamanku sudah menyiapkan kembang api hebat itu dengan hati hati. Jam sudah menunjukkan pukul setengah Sembilan, Ako terlambat satu jam dari perjanjian, aku benar benar cemas, mungkin Ako terlibat perkelahian lagi. Saat aku mencari cari Ako disekitar sana aku melihat gubuk tua yang terang, sepertinya ada orang disana, hatiku mengatakan bahwa aku harus masuk kedalam gubuk itu.
            Aku membuka pintu gubuk reyot itu pelan pelan, dan ternyata disana berkumpul sekitar 20 orang lebih, mereka menyadari keberadaanku.
“siapa laki laki culun ini? Apa dia teman cewek ini?” kata seorang laki laki yang umurnya jauh tua dibanding aku. Aku benar benar kaget ketika melihat Ako diikat disudut gubuk dengan mulut dibalut kain. “Ako! Kau baik baik saja!?” kataku dengan panik
“wah wah, ternyata benar ia teman Ako, apa kau mau berlagak jadi pahlawan, bocah?”
“kalau begitu, kita hajar dia, laki laki ini bisa apa?”
“bisa bisanya ia membela wanita yang yang jahat ini, mala mini kalian akan kami bantai, Ako sudah diikat, ia tak akan bisa melawan”
“ayo, majulah bocah, akan kami bunuh kau didepan Ako”
Kaki, mulut, tangan, da semua tubuhku gemetar, apa mungkin orang orang ini dendam pada Ako yang sudah menghajarnya? Namun Ako sekarang sedang tak berdaya, ia tak akan lolos karena sudah diikat kuat dipojokan sana, pikirku, aku harus cepat meminta pertolongan pamanku, segera aku mengeluarkan handphone. “mau apa kau bocah! Kau mau lapor polisi ya!” seru seorang laki laki bertubuh besar sambil menendang perutku, aku terlempar kedinding dan mulutku mengeluarkan darah, Ako yang sesaat sadar melihatku sambil teriak, namun ia tak bisa bergerak sedikitpun. Aku ditendang berkali kali hingga hamper tak sadarkan diri, Ako melihatku sambil menangis, aku benar benar tak bisa apa apa, aku tak bisa melindunginya, setelah aku pingsan, pasti mereka juga akan memukul Ako, dalam pandanganku yang mengabur karena kesakitan aku masih berpikir jalan keluar yang harus kulakukan agar bisa menang. Aku berpikir mengenai Ako yang semangat jika melihat kembang api, aku merayap mengambil handphone yang tidak jauh jaraknya denganku. Aku mengirim sms kosong dengan cepat kepamanku.
“hah! Apa yang kau lakukan? Sudah terlambat! Kau sudah mati sebelum polisi datang” mereka mulai mengeroyokku lagi, sesaat kemudian terdengar suara kembang api dliuncurkan, kembang api yang paling dahsyat, berkalii kali lipat indahnya dari kembang api biasa, besar, berkali kali dan berwarna warni, aku harap Ako melihatnya dan jadi semangat, aku berharap ia tak akan sedih lagi dan ini yang bisa kupersembahkan untuknya.
“apa ini siapa yang menghidupkan kembang api”
Ditengah pandanganku yang mengabur aku melihat Ako tiba tiba berdiri dengan tatapan merah tajam, tatapan yang berkali kali lipat sinisnya dari biasanya, ia mengenggam kepalan tangannya kuat kuat.
“a.. apa ini? Bukannya ia sudah diikat kuat? Mana mungkin ia bisa melepasnya” kata mereka sambil ketakutan.
“terima kasih Jiro, kau tahu kalau aku bisa semangat lagi kalau melihat kembang api, itu kembang api yang paling hebat, aku meriniding dan senang dibuatnya, tanpa sadar aku bisa melepaskan ikatanku” kata Ako kepadaku.
Ako dengan cepat menghindar serangan pria pria lain, ia melompat dengan cepat, lalu mendendang, membanting juga melempar mereka satu persatu, luka luka lawannya lebih parah dari biasanya, jadi inikah semangat yang diperolehnya ketika melihat kembang api? Pikirku.
            Setelah mengalahkan semua pria itu tanpa terkecuali, ia berdiri dengan gagahnya, namun ia tidak memasnag senyum merendahkan seperti biasa, namun tersenyum lega kearahku sambil menopangku ia berkata, “tadi itu aku melihat kembang api yang sangat besar, itu membuatku menjadi sangat bersemangat, tapi kembang api itu bukan sesuatu yang meluncur dengan indah dan warna warni seperti barusan, melainkan semangat  dan tekadmu untuk melindungiku itu adalah kembang api yang terbaik untukku”