Jumat, 02 November 2012

Macet


Mengerjakan tugas laporan, belajar untuk menghadapi kuis dan uts, membeli isi binder, pensil dan penghapus baru, mempersiapkan surprise untuk ibu tersayang, membantu kakak menjahit bros, dan.. satu persatu kegiatan mulai menyesaki benakku, kemudian aku membuka mata pelan sambil mengibaskan rambut yang lengket karena keringat perlahan kebelakang dan membenarkan posisi duduk di kursiku yang sempit dan kecil, belum lagi posisinya agak miring kebawah, kalau saja tidak setiap sepuluh menit sekali aku membenarkan posisi duduk, pasti seluruh tubuhku sudah merosot sampai kebawah. Sinar matahari yang sudah tidak malu malu lagi mulai menyerangku dengan kasar, menyilaukan mata dan hampir memerahkan setengah wajahku yang memang kukeluarkan sedikit dari jendela bus karena menginginkan sedikit udara segar dari bus yang sesak, namun bukanlah udara segar yang membelai wajahku, melainkan angin panas yang mengandung debu debu halus maupun kasar yang berlomba memasuki mata dan hidungku, klaksonan mobil dan motor, gemerisik gesekan ban yang menyentuh tanah berbatu terdengar saat beberapa supir memaksakan kendarannya melewati jalan yang terjal kebawah, dan teriakan sesumbar yang kasar terdengar keluar dari mulut orang yang berpindidikan maupun yang tidak, pemandangan ini, suara ini, rasa ini dan suasana ini sangat tidak bosan bosannya menjahili hari dan duniaku yang semula bisa dibilang tentram.
            “tik, tidur ya?” terdengar sesayup suara lembut dari sebelah tempatku duduk “macet lagi nih, gimana dong?”, katanya lagi, aku hanya diam sambil memerhatikan barisan kendaraan kacau balau yang memanjang kesamping kearah tikungan yang tajam. Macet, semua orang yang tinggal di kota atau di perbatasan kota sekalipun pasti pernah mengalami kejadian ini.”yah, padahal aku janji mau nemenin mama aku beliin kado buat adik aku” terdengar suara yang lebih melengking dari yang sebelumnya, itu suara Inne, “aku mau ngebalikin dvd yang kemarin aku pinjem, gimana nih, kalo malem tokonya udah tutup, kalo balikin besok, berarti aku bakalan kena denda” kata putri, teman yang duduk disebelahku. Benar, semua orang yang mengalami macet, pasti merasa kesal dan jengah karena menghabiskan waktu, banyak kegiatan lain yang harus dilakukan dan terasa membosankan, semua kegiatan yang terhenti atau tertunda diluar perkiraan adalah sesuatu yang tidak mengenakkan, memang kehidupan tidak selalu lancar seperti yang ada dalam benak manusia, contohnya, cinta.
            Masa menuju titik kedewasaan, menstabilkan emosi, dan merubah persepsi ‘cinta monyet’ terjadi di masa SMA, namun tidak terhitung jumlah murid yang berpacaran dengan teman satu sekolah mereka sendiri, tidak termasuk aku. Sejak masuk SMA hingga saat itu, aku tidak merasakan berpacaran dengan teman satu sekolahku, sekalipun jatuh cinta dan sempat mengalami masa pendekatan. Sesekali aku menatap iri dengan teman dekat maupun teman yang tidak terlalu dekat, iri saat melihat mereka berjalan kekantin berdua sambil tertawa kecil, iri saat melihat mereka berboncengan keluar masuk perkarangan sekolah dengan mengenakan seragam sekolah, iri saat melihat mereka berduaan di balkon lantai tiga maupun lantai dua gedung sekolah. Semenjak awal kelas satu SMA, aku sudah berkali kali jatuh cinta dengan beberapa laki laki, meskipun awalnya mengalami kedekatan, namun pada akhirnya status berpacaran tidak kunjung aku dapatkan. , aku berpikir kalau aku tidak akan pernah bisa pacaran dengan murid sekolah ini.
 jarum terus bergerak kearah kanan dengan kecepatan dan nada yang teratur, langit, menunjukkan waktu dan suasana yang sedang kita alami. Waktu terus berjalan dan menguasai kita sampai akhir dunia. Akan tetapi, waktu yang bisa menentukan suasana dan terlihat seperti menguasai segalanya pun tetap berlari mengejar tanpa mengetahui keinginan, takdir dan kejadian yang kita alami. Meskipun kau sudah berusaha sampai titik darah penghabisan untuk mencapai tujuanmu, takdirmu tetap ditentukan dan waktu terus mengejarmu. Terkadang, takdir dan waktu bisa bersahabat dengan dirimu hanya apabila kau mengerti mereka, mungkin takdir yang mempertemukanku dengan dirinya dan waktulah yang berkuasa saat memperlihatkan keindahannya. Akhirnya aku berada dalam situasi dimana orang orang mulai berlomba mencari tempat bimbel yang bagus, membeli buku buku soal soal persiapan UN dan SNMPTN, berkonsultasi dengan guru maupun mentor, mengikuti try out yang diadakan dimana, kapan dan oleh apa saja, dan memperhatikan promosi dan seminar seminar dari beberapa universitas dengan seksama, benar, aku memasuki semester dua kelas tiga SMA, ketegangan dan kegigihan mulai merambat satu persatu dan memasuki jiwa para murid yang ingin mempunyai masa depan yang menyenangkan. Disaat semua orang mulai sibuk dengan semua itu, ditengah tengah pelajaran yang berlangsung di sebuah kelas, teringat lagi akan keinginanku dulu untuk mempunyai pacar dengan anak satu sekolah saat melihat seorang temanku sedang menemui kekasihnya didepan pintu, bagaimana dan apa saja rasanya saat berpacaran dengan teman satu sekolah mulai kembali mengalir ke benakku, hanya satu jawaban yang kudapatkan setelah melamun sejenak dalam keadaan yang sunyi, ‘menyenangkan’. Kemudian, aku berpikir lagi bahwa ini bukan saatnya memikirkan cinta , yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya lulus dengan nilai yang tinggi dan mendapatkan universitas bergengsi untuk mendapatkan masa depan yang terbilang cerah. Namun, saat aku berpikir untuk mencintai laki laki yang kutemui di jurusan yang sama dan berpacaran dengannya suatu saat nanti, aku salah besar.
Tok tok tok pintu kayu yang dilapisi cat minyak berwarna coklat diketuk oleh tangan seseorang, dan terdengar bunyi engsel pintu dipegang dan ditarik, aku dengan sigap menundukkan wajah, mengambil pena, dan pura pura menulis, namun saat aku sengaja mengangkat dagu perlahan dan menggerakan mata kekanan, bukan orang itu yang kulihat, bukan orang yang kutunggu tunggu dengan jantung yang berdegup dari tadi, aku menghela nafas pelan dan melihat kearah arloji temanku sekilas, waktu menunjukan pukul 14.50, hampir setengah jam saat jam pelajaran di sebuah kelas bimbel ini dimulai. ‘mungkin dia tidak masuk’ pikirku pelan dengan nada kecewa, ‘berarti aku baru akan bertemu dengannya minggu depan’, aku merasakan rasa kecewa yang lumayan dalam. Sepuluh menit setelahnya, pintu kembali diketuk dan dengan penuh harapan aku mengangkat daguku dan membelalakkan mataku dengan sigap melihat siapa yang akan memasuki ruangan, ternyata benar, laki laki yang kuharapkanlah yang memasuki kelas, sosok yang aku tunggu tunggu dengan perasaan gugup dari tadi, tanpa sengaja aku menatap dirinya selama beberapa detik, sadar diperhatikan, ia melirik kearahku, kearah mata hitamku yang penuh dengan dirinya, kami bertatapan tidak lebih dari satu detik, aku kembali melihat kebuku catatan dan ia kembali menunduk sambil melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan, diiringi dengan sorakan anak anak lainnya yang berkata “sudah telat setengah jam, enggak usah kursus aja sekalian”, dan lain sebagainya, jantungku bertambah kencang degupannya dengan irama yang tidak konstan, mungkin kalau aku sebuah boneka bersekrup, sekrupku harus diputar lima detik sekali saat melihat dirinya, hanya satu detik, satu detik saat aku bertatapan dengannya, satu detik yang berharga.
Aku menggenggam erat handphoneku ditangan kanan dan melirik kearahnya satu menit sekali, saat led dari hadphoneku menyala merah, dengan sigap dan cepat aku membuka kunci dan melihat messenger yang kuterima, dengan senyum sumringah aku melihat nama yang tertera disana, ternyata benar, itu dirinya, sesegera mungkin aku menekan tombol ‘open chat’.
Hei :p lagi apa? Udah mandi sama sholat kan? Kalo belum, sholatlaah :p
Aku membalasnya dengan cepat, dan aku memulai membincangkan kejadian tadi.
Tadi kita selihatan kan? Kok kamu nunduk sih? Hahahaha
            Haha, aku masih malu, maaf ya L :p
            Haha, gak papa kok, aku juga malu, hehe J
            Oiya, sudah US nanti gak ada acara kan? Aku mau ngajak jalan, mau nggak?
Air minum yang semula berada dalam mulutku, setengahnya menyembur keluar, jantungku mulai berdegup kencang seperti biasa, dengan cepat aku kembali mengetik
            Hehe, maulah :P kemana?
Ia serius mengajakku jalan berdua saja setelah ujian sekolah nanti, rasa bahagia yang tak tertahankan menjalar dari ujung rambut sampai ujung kakiku, pikiranku seolah ingin mengeluarkan ‘bunga’, kalau saja dirumahku sekarang terdapat kolam renang, aku pasti akan melompat kedalamnya dengan tanpa melepas pakaianku dan berteriak keras keras. Namun, pikiran ‘bunga-bunga’ ku terhenti saat aku memikirkan kalau kami tidak pernah sekalipun bertatapan dan berbincang bincang, bagaimana mungkin kami berdua akan ‘berkencan’ dengan tenang, aku pasti akan mengalami degupan jantung yang dahsyat, keringat dingin dan sakit perut saking gugupnya, namun pikiran itu kutunda sementara, yang kupikirkan saat ini hanyalah ‘kebahagiaan’, aku sangat bahagia diajak kencan oleh laki laki yang kuciintai meskipun bukan kekasihku, sudah lama sekali aku tidak merasakan sensasi kebahagiaan karena cinta ini.
            Waktu yang sudah ditunggu tunggu telah tiba, semakin mendekati jam dua siang, degupan jantungku semakin kencang dan terdengar sampai ketelingaku sendiri, handphone yang aku pegang berkali kali hampir jatuh karena keringat di telapak tanganku yang keluar dengan teramat banyak. Sekarang, aku sudah berada di tempat yang dijanjikan, aku sengaja duduk dan menghela nafas panjang untuk menenangkan pikiran, kakakku bilang kalau kau ingin semuanya berjalan lancar, tariklah nafas dalam dalam dan hembuskan seperti kau mengeluarkan seluruh masalahmu, belum sempat aku melakukan semua itu, sosok laki laki yang kutunggu tunggu mulai terlihat batang hidungnya, semula aku menunduk dan begitu pula dirinya, saat ia sudah mendekat kearahku, aku berdiri dengan menguatkan kedua kakiku yang kesemutan, aku menahan nafas dan mengatur suaraku sejenak agar tidak terdengar gemetar, dengan perlahan dan dengan satu kata yang kuucapkan pertama kali untuknya, “mau langsung keatas?” tanyaku dengan menatap matanya, ia juga terlihat gugup, kondisinya hampir sama denganku “hmm.. iya” jawabnya. Aku berpikir kalau kencan pertama dalam hidupku ini akan berlangsung hambar karena kami berdua sama sama gugup, namun pikiranku salah besar, kami berkencan selayaknya pasangan muda mudi biasa, ia dengan mudah mencairkan suasana dengan suaranya dan nada bicaranya yang lembut serta didampingi dengan tawaan dan canda kecilnya, aku sangat bersyukur bisa hidup sampai hari ini saking senangnya, aku senang sekali bisa berkencan dan mencintai laki laki ini sampai detik ini. Waktu menunjukkan pukul setengah 6 sore, dan kami mulai memutuskan untuk mengakhiri kencan ini, sesaat setelag kami berjalan kearah berlawanan, ia berteriak “Makasih manis” aku terkaget mendengarnya berkata demikian, saking kagetnya aku tidak bisa berkata apa apa, aku hanya membalas dengan senyuman kecil dan menunduk lalu berjalan kearah pintu luar. Sebenarnya, aku agak kecewa dengannya, semula aku berpikir kalau dia akan menyatakan cintanya padaku, namun tidak berjalan semulus itu, inilah awal ‘macet’ bermula.
            Hampir seluruh teman dekatku mengetahui kedekatan kami, tidak sedikit dari mereka menulis dan mengolok olok kami di dunia maya maupun nyata, namun itu tidak masalah buatku, aku senang bisa digosipkan dengan laki laki yang memang aku sukai. Hampir satu bulan berlalu setelah kencan itu kami masih melalukan komunikasi lewat handphone seperti biasa, rasa penasaran dan harapanku sedikit demi sedikit mulai sirna akan cinta dari dirinya, aku mulai berpikir yang tidak tidak, akankah tiba saatnya saat ia menyatakan rasa cinta padaku? Apakah sebenarnya ia mencintaiku? Kalau ia benar benar menyukaiku tidak mungkin ia membiarkanku menunggu begitu lama? Apa yang sebenarnya ia pertimbangkan? Satu persatu pertanyaan memasuki pikiranku, dan malangnya aku tidak dapat menjawabnya sendiri, semua orang benar, terjebak dalam situasi macet itu sangat tidak mengenakkan, banyak hal yang harus kita pikirkan, banyak hal yang harus kita lakukan, menunggu bukan sesuatu yang enak untuk dilakukan mengingat kita tidak bisa melakukan apa apa selain duduk diam dan berpikir positif, karena kalau tidak berpikir positif, kita bisa jadi gila.
            Ada seorang ‘teman’ yang pernah berkata begini “tik, kok kamu mau sih di PHP-in kayak gitu? Kalian udah ada panggilan sayang lho, masa’ kamu belum ditembak sih? Kalau aku sih gak bakalan mau menunggu selama itu, masih banyak kok cowok yang lain”.kata katanya yang tajam seolah menyiram minyak kedalam api yang merah membara, ia benar, aku seperti seorang yang bodoh karena terus menunggu sesuatu yang tidak begitu pasti, akan tetapi setelah menimang nimang, berpikir keras dan melamun sejenak, aku mendapatkan sebuah jawaban, untuk apa selama ini aku berkomunikasi dengannya? Untuk apa selama ini aku menunggu dia datang keruang kelas sambil menunduk dan gugup? Untuk apa selama ini aku menunggunya datang kesekolah dan menunggu dia lewat dari atas balkon? Untuk apa selama ini aku memeperhatikan punggungnya sampai hilang sosoknya saat pulang sekolah? Itu semua demi dirinya, itu semua demi kebahagaiaan diriku, aku yakin kalau aku bisa menunggu saat ia menyatakan cintanya padaku selama apapun itu, karena itu yang memang aku tunggu, karena itu yang memang aku inginkan, aku menginginkan dirinya dengan semua lebih dan kurangnya.
            Beberapa hari kemudian saat mentari sudah malu malu dan membenamkan dirinya, ia menyatakan rasa cintanya padaku, demi semua rasa, yang aku rasakan saat ini hanya rasa bahagia, hanya satu rasa, namun memenuhi jiwaku dengan amat berlimpah. Sampai sekarang, aku dan dirinya tetap menjalin cinta tanpa adanya rasa kurang sedikitpun, kami dijuluki pasangan yang paling romantis oleh teman teman kami. Adakah hal lain yang dapat menggantikan semua ini? Aku rasa tak ada, andai saja saat itu aku sudah mundur, andai saja saat itu aku sudah menyerah, pasti rasa bahagia ini tidak akan pernah aku dapatkan seumur hidup. Macet dan menunggu memang kejadian yang sangat tidak menyenangkan untuk diperbincangkan, namun, kalau kita bisa mengerti akan arti dibalik semua itu, akan ada balasan yang jauh lebih berarti.
            “wah akhirnya sampai Palembang tepat waktu, asiiik bisa nemenin mama, apalagi mama sedang berada drestoran pasti setelahnya aku bakalan ditraktir” kata inne dengan senyum sumringah
“rental dvd juga belum tutup, eh, barusan aku dapet kabar dari pemiliknya kalau ada stok dvd film terbaru dan baru muncul hari ini, entar aku pinjem, kita nonton sama sama dirumah aku ya, teman” kata putri sambil memegang handphonenya, tak lama setelah itu, handphoneku bergetar, ada sebuah messenger yang masuk. Sayang, kamu udah dipalembang kan? Aku jemput ya, setelahnya kita makan yuk, kamu pasti belum makan.

Rabu, 20 Juni 2012

Waktu dan Takdir


Tik tok tik tok, jarum terus bergerak kearah kanan dengan kecepatan dan nada yang teratur, langit, menunjukkan waktu dan suasana demi suasana yang sedang kita alami. Waktu terus berjalan dan menguasai kita sampai akhir dunia. Akan tetapi, waktu yang bisa menentukan suasana dan terlihat seperti menguasai segalanya pun tetap berlari mengejar tanpa mengetahui keinginan, takdir dan kejadian yang kita alami. Meskipun kau sudah berusaha sampai titik darah penghabisan untuk mencapai tujuanmu, takdirmu tetap ditentukan dan waktu terus mengejarmu. Terkadang, takdir dan waktu bisa bersahabat dengan dirimu hanya apabila kau mengerti mereka, mungkin takdir yang mempertemukanku dengan dirinya dan waktulah yang berkuasa saat memperlihatkan keindahannya.
                “kau belum tidur?” suara yang agak parau dengan nada sedikit cemas terdengar ditelingaku “jangan bermain dengan handphone mu terus, apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?” kali ini suara itu terdengar melengking dan ada perasaan kesal didalamnya.
“sebentar lagi bu” jawabku dengan singkat dan datar, ibu hanya menghela nafas perlahan  dan pergi setelah menutup pintu kamarku. Sebenarnya aku suka sekali tidur lebih cepat dan bangun lebih awal, namun ada sesuatu yang sangat menarik perhatianku malam ini, aku sedang membaca timeline seseorang, rutinitas ini sudah kulakukan baru baru ini dan semakin lama aku semakin tertarik. Orang ini sangat menyukai sajak, ia mempunyai akun twitter kedua dan menyembunyikan identitasnya meskipun itu usaha yang sia sia, aku tahu persis siapa yang memiliki akun ini. Setiap malam ia selalu membuat beberapa sajak mengenai dirinya. Meskipun ini tidak bisa dibilang perbuatan yang terpuji karena kurang sopan men-stalke twitter orang lain dengan sengaja dan terus menerus. Namun aku menyukai kata kata yang ia posting meskipun sebenarnya kata kata itu tak lebih dari perasaan sedih pembuatnya yang bisa membuat hati pembacanya teriris, terus terang aku juga tidak begitu mengerti kata kata yang ia rangkai, akan tetapi aku sangat tertarik dengan apa yang dilakukannya, dia membuat suasana sedih, pedih dan sakit menjadi begitu nyata.
                Ia selalu membuat sajak sajak yang menorehkan kesedihan yang amat mendalam, aku tahu itu, aku dapat merasakannya, mungkin ini karena kegagalannya dalam menjalin hubungan dengan pacarnya. Kalau aku yang menjadi pacarnya, aku akan sangat sedih bila orang yang mencintaiku terus menuliskan sajak kesedihannya tentang diriku terus menerus, ini sama seperti seorang penulis yang membuatku sebagai pemeran utamanya dan mengakhiri cerita dengan unhappy ending. Terbesit keinginan dibenakku, suatu saat akan kubuat orang ini menuliskan namaku dan aku sebagai pemeran utama dan tokoh didalam sajaknya, namun bukan sajak yang mengadung kesedihan dan kepiluan, melainkan sajak yang mengandung kebahagiaan dengan berbagai arti.
                Banyak wanita yang menginginkan bunga, boneka beruang raksasa, kue, atau coklat dari kekasihnya, namun tidak denganku, yang aku inginkan hanya kata kata penuh cinta yang dibuat oleh orang yang sangat mencintaiku dengan sepenuh hatinya, suatu saat ketika aku menjadi seorang penulis terkenal, sajak sajaknya akan kumuat dalam cerita cerita ku, dan kami berdua akan membacanya berulang ulang sampai tua, sampai salah satu dari kami tidak bisa lagi merangkai kata kata, itu keinginanku, sederhana.
“aku tidak mau pacaran dengan orang yang tidak mengerti hobiku” kataku dengan kasar kapada seorang teman wanitaku, “maksudmu?” tanyanya dengan mengernyitkan alisnya yang tipis, “kau tahu tidak, baru baru ini aku membuat cerpen untuk menguji seseorang”, jawabku
“menguji?” tanyanya lagi
“aku membuat sebuah cerpen dan meminta ia untuk menilainya, dan kau tahu apa komentarnya? Dia hanya bilang ‘bagus’ dan ketika kutanyai lagi mengenai bagian apa yang ia sukai, dia menjawab ‘semuanya’ “, jawabku dengan nada kesal.
“lho, itu baguskan, artinya cerpen buatanmu benar benar bagus dan ia menyukai semua bagiannya”
“apanya yang bagus, jawaban itu membuatku kesal, suasananya seperti ini, jika kau ditanyai mengenai film kesukaanmu kau pasti akan menjawabnya dengan bersemangat dan menyebutkan bagian khusus yang kau sukai, kan? Pasti begitu, dan itu bukti kalau dia tidak menyukai cerpenku atau mungkin tidak menyukai hobiku” jawabku, mencoba menjelaskan
“mungkin ia hanya tidak mengerti mengenai cerpenmu, kau sering memakai kata kata sulit dan orang yang agak kaku pasti tidak bisa memahaminya, kan”
“nah itu tadi!” jawabku dengan nada kesal “aku tidak mau pacaran dengan orang yang tidak mengerti hobiku, meskipun ia menelepon dan mengirimiku pesan berkali kali, aku tidak akan memerdulikannya, bisa kau bayangkan betapa tersiksanya aku ketika pacaran dengan dia, kan? Aku pasti akan terus menahan hati” jawabku
“kau memang orang yang keras kepala, ami, bukan salah dia kalau dia tidak mengerti hobimu kan? Kalau begitu kau harus berpacaran dengan laki laki yang mengerti sastra, hahaha” jawab nya sambil mengolok olok
“yah mungkin aku memang keras kepala, tapi kalau aku membuat cerita dan merangkai kata kata bagus untuknya dan dia tidak mengerti itu pasti akan membuatku kesal, itu saja”
“ngomong ngomong” katanya lagi “aku tahu laki laki yang mengerti sastra , anak kelas unggulan disebelah kan? Setiap pagi ia terus terusan me-retweet sajak sajak cinta, sepertinya kau cocok dengan orang yang seperti itu” jawabnya dengan sinis.
“ehm, sesudah ini pelajaran matematika kan? Aku pinjam buku latihanmu dong, semalam aku lupa membuat PR”  kataku, mencoba mengalihkan pembicaraan, aku takut ia akan menjelek jelekkan laki laki yang saat ini sedang menarik perhatianku itu, sepertinya orang orang tidak menyukai hobinya itu, memang jarang ada sih laki laki yang menyukai sajak sajak indah begitu dijaman dan suasana yang serba kasar begini, ‘cerpenpun sekarang sudah tidak begitu diminati, apa lagi sajak’, pikirku. Namun itulah letak keunikannya, aku kira laki laki seperti itu hanya satu diantara dua ratusan orang.
                Semua berawal saat dia menanyaiku mengenai ulangan biologi, ibuku guru biologi disekolahku dan mengajar dikelasnya, ia menanyaiku mengenai pelajaran dikelas dan aku juga begitu, ia orang yang cukup bisa diajak bersahabat dan bercanda, bisa dibilang aku merasa nyaman saat berkomunikasi dengannya walaupun dalam pesan pesan, belum lagi ia tidak seperti laki laki yang berada didalam lingkungan unggulan dalam waktu lama yang selalu bersikap serius, kaku dan tidak begitu bisa diajak bercanda. Obrolan kami berlanjut semakin akrab dan semakin akrab sehingga ada suatu ketertarikan dalam diri kami masing masing. Aku kira ia dan aku menyadari ketertarikan ini.
                Namun saat berada didunia nyata, kami tidak pernah sekalipun mengobrol atau sengaja bertemu meskipun dalam obrolan dihandphone terlihat begitu akrab seperti sudah mengenal sejak lama, ada rasa teramat gugup yang menguasai seluruh tubuhku saat bertemu atau berpapasan dengannya secara tidak sengaja, begitu pula dengannya, aku selalu berpura pura melakukan sesuatu atau memandangi sesuatu yang lain saat berpapasan dengannya, dan ia sepertinya terus melakukan hal terbaik untuk menghindar, kami hanya diam seperti orang yang tidak saling kenal saat bertemu. aku masih ingat perasaan ketika menunggu dan memandanginya dari balkon setiap pagi, aku masih ingat perasaan dimana aku memperhatikannya mengemudikan motornya hingga tak terlihat lagi, aku masih ingat saat aku terkaget dan berpaling kebelakang seperti orang bodoh saat tiba tiba melihatnya didepan mataku, aku masih ingat saat ia pura pura melihat kearah denah sekolah saat melihatku turun dari tangga, dan  aku masih ingat ketika menunggunya datang keruang kelas tempat kursus dengan perasaan gugup. Aku dan dia terus menyimpan rasa di waktu yang cukup lama dalam diam.
                Akhirnya setelah agak lama kami berdua melalukan pendekatan dengan sengaja, ia mulai sedikit bisa menggodaku, ia mencoba memanggilku dengan panggilan ‘manis’, aku sangat senang mendengarnya, namun itu berarti aku juga harus mempunyai nama panggilan khusus untuknya, awalnya aku hanya bercanda dengan memanggilnya ‘jelek’, namun ia menanggapinya dengan serius dan kami berpikir bahwa ini lucu, jadi kami membuat status dalam blackberry masing masing yang berbunyi ‘we are sweet and ugly  J’, dan mulai muncul rumor rumor mengenai kedekatan kami. Aku menyukai sajak sajaknya dan ia pernah mengirimkan beberapa kepadaku, yang bunyinya
Aku selalu berdoa, mudah mudahan kau tak sama seperti mereka, yang menilai hanya dari apa yang bisa mereka lihat. Sungguh aku bukan siapa siapa dan tak punya apa apa, namun aku takkan pernah berhenti mencintaimu.
Aku selalu heran, mengapa Tuhan menciptakanmu begitu manis didepanku, berkedip adalah cara Tuhan menegurku, agar tak terlalu lama memandangmu.
Kau tahu, aku tak peduli bagaimana dunia menjatuhkanku. Selama kau disisiku, aku sudah punya lebih dari segalanya.
Demi semua rasa indah yang belum bisa kuberi nama, aku berharap bisa menjadi satu-satunya lelaki yang mampu mengusap air matamu, dengan lembut.
Takkan ada yang mampu mengungkap diam kita. Ya, tak ada, bahkan aku atau kau sekalipun. Hanya waktu, dan sebuah rasa dalam hati kita, yang belum juga mampu kita ungkapkan.
Kau lebih terang dari kerjap cahaya, lebih anggun dari purnama, lebih bias dari angan angan. Aku, hanya seorang lelaki yang bermimpi  bisa mencintaimu, dan dicintai olehmu.
Tahukah kau Ami, mungkin Tuhan menciptakan cinta, agar tak ada yang perlu didukakan lagi, dalam hidup kita.
Tersenyumlah selalu Ami, tersenyumlah; Tetaplah tersenyum, meski dalam tangisanku.
Lihatlah, Ami, langit malam yang hening, seakan ingin memecah ketuk jantung kita; Ketuk jantung yang mencintai, dalam sepi.
Hujan terhempas dari biru lazuardi, saat aku hendak buru-buru pergi, saat kulihat matamu berair, sungguh airmu lebih mendukakan dari apapun bagiku.
Hujan, cukuplah engkau menangis sedih kehilangan matari, tidakkah kau lihat, kekasihku, jauh lebih duka, tak dapat bertemu daku.
Jangan sekali lagi kau menangis, manisku; Perpisahan, hanya soal jarak yang bernak pinak, bukan perasaan kita, yang mati suri.
Tak ada yang perlu kau sedihkan manisku; sungguh, kau hanya perlu menunggu waktu, membawa daku, kepelukanmu.
Bersabarlah manisku, dunia menunggu senyumanmu, hujan menanti pelangimu, dan aku selalu menunggu kehadiranmu, disisiku.
Walau aku selalu tak bisa menghapus kesedihanmu, setidaknya aku tidak akan membiarkan kau bersedih sendirian, sayang.
                Semakin aku gugup saat melihatnya, semakin aku senang saat membaca semua pesan pesannya, dan semakin aku menyukai sajak sajaknya, semakin aku menyadari kalau aku mencintainya. Takdir dan waktu terus mengampiri dan berjalan kearah kami berdua. Suatu hari dimana ujian sekolah sudah berakhir, ia mengajakku untuk pergi kencan untuk yang pertama kalinya, awalnya aku bingung, bagaimana bisa dua orang yang tidak pernah bercakap satu patah katapun bisa berkencan? Apa yang akan kami berdua bahas dan apa yang akan kami berdua lakukan jika bertemu? apakah akan berpaling atau menunduk seperti biasa?. Pertanyan pertanyaan itu terus menghantui dan membuatku semakin bingung. Namun, aku menerima ajakannya karena ini kesempatan dan mungkin ia mulai menyadari dan ingin membina hubungan kami dengan lebih serius. Waktu itu tanggal 6 april 2012, hari Jumat, dimana suasana siang sangat terasa menyengat dan mengganggu pikiran, sejak mulai bangun tidur pagi tadi perasaanku sudah mulai gusar, gugup dan gelisah, ‘hari ini hari dimana aku berkencan untuk yang pertama kalinya dalam hidupku’ kataku dalam hati, aku sudah menyiapkan pakaian yang akan kupakai pada siang itu, dia bilang bahwa foto yang aku pajang di display picture sangat manis ketika tersenyum sambil memakai baju berwarna pink, jadi aku berencana memakai baju itu, untuk memikatnya, aku juga memakai minyak wangi beraroma vanilla agar terasa lebih manis. Jam yang sudah dijanjikkan akhirnya datang juga, perasaanku mulai terasa campur aduk, mulai dari gugup, gelisah, bahagia, dan bingung, aku mencoba menenangkan diri, dan berpikir obrolan apa yang akan kami bicarakan nanti. Syukurlah, kencan berlangsung lancar tanpa kejadian konyol apa apa, karena aku selalu melakukan hal konyol jika gugup, kami menonton film hantu yang berjudul woman in black dan tak terhitung sudah berapa kali aku menjerit, awalnya aku merasa malu sekali, namun aku senang jeritanku membuat dia tertawa. Kemudian, kami memakan masakan restoran yang cukup mahal, meskipun menunggu pesanannya sangat lama namun  aku juga senang bisa menghabiskan waktu dengannya lebih lama, kegugupan dan kegelisahanku akhirnya berkurang sedikit demi sedikit, ia selalu bisa mencairkan suasana sehingga tidak kaku, rasanya kami sudah seperti sepasang kekasih. Semenjak hari itu, rumor diantara kami semakin parah, tapi kami tidak meperdulikannya dan agak senang karenanya.
                Tidak sampai sebulan waktu berlalu, semenjak rumor diantara kami semakin parah dan teman teman kami semakin mengolok olok, timbul kejadian yang tidak begitu mengenakkan.
“kalian ini lucu ya, padahal sudah berkencan berdua dan sudah punya panggilan masing masing, namun kalian belum juga jadian” kata temanku yang saat ini sepertinya tidak ingin kuakui sebagai temanku, saking kesalnya.
“bukannya kalian sudah lama melakukan pendekatan?” katanya lagi “ia seperti seorang pemberi harapan palsu, kalau aku sih tidak mau terus terusan menunggu laki laki begitu, kalau aku jadi kau, aku akan meninggalkannya” katanya dengan nada sok cantik, seolah olah berkata kalau dia lebih cantik dan lebih diminati oleh para lelaki melebihiku. Aku diam saja, dan ‘mendiami’nya selama beberapa waktu, terbesit dipikiranku sesaat, akankah tiba saatnya dimana ia menjadikanku sebagai kekasihnya? Jika tidak ada tanda tanda itu, sepertinya aku harus menjauhinya, pikirku. Namun, apalah guna kesediaanku menunggunya selama ini? Kesediaanku menerima ajakan kencannya dan kesediaanku digosipkan dengannya? Bukankah itu karena diriku mencintainya, yah aku mencintainya, dan aku akan menunggu sampai saat itu tiba, waktu dan takdir pasti akan berpihak padaku.
                Sampai saat ini dan sampai detik ini aku tidak akan melupakan kejadian kejadian yang pernah kualami dengannya dan moment indah pada tanggal 28 april 2012 hari sabtu dan pukul lima sore hari dikomplek perumahanku, ia memberanikan diri untuk menyatakan rasa suka nya dan ingin menjadikanku kekasihnya, aku bahagia, sungguh bahagia yang tidak dapat dinilai harganya, dan aku berharap bisa selalu bahagia bersamanya sampai waktu berhenti untukku dan takdir memang berpihak padaku. Aku harap ia senang karena aku menjadikan dia sebagai pemeran utama di cerpenku yang happy ending ini.

Jumat, 27 April 2012

Destiny bagian 1


Juliana menghela nafas perlahan sambil membuka kaitan jendela satu demi satu dan mendorong kaca dengan tangannya yang halus berwarna putih pucat, tampak pemandangan malam sunyi sepi yang berbanding terbalik dengan suasana didalam istana, aliran rembulan yang menghunus diantara celah celah pohon elm raksasa terpatri jelas didanau ‘takdir’, patung nenek Elma dan paman Jacob yang berdiri tegak ditengah kebun bunga mawar yang membentuk labirin tampak hidup dan memainkan peran mereka kembali sebagai ratu dan penyelamat istana, meskipun Juliana cukup mengetahui tentang  sosok dua orang yang sudah lama gugur ini, ia memutuskan untuk tidak memikirkan mereka malam ini karena ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, perasaan yang sesak dan takut yang amat mendalam dari dasar hatinya, angin malam yang teramat dingin menggosok pipi lembutnya,, memainkan rambut yang keritingnya keemasan, lalu masuk ke sela sela gaun pestanya. ia menghembuskan nafas perlahan, menggosok gosok kedua pipi nya yang sudah lama memerah, hidung mancungnya mendengus berkali kali untuk mengeluarkan hawa hangat.
“sepertinya Juliana kecil kita tidak menyukai pesta ulang tahun yang sudah kita persiapkan selama tiga bulan terakhir ini, istriku” kata seorang pria yang sedang meminum anggur merah ditangan kirinya dan cerutu ditangan kanannya sambil menatap istrinya dengan lembut, “jangan terlalu diambil hati, suamiku, hari ini dia sudah berumur 18 tahun, ia bukan lagi gadis kecil yang suka duduk dipangkuanmu, Juliana kita sudah dewasa, dia pasti sedang punya masalah yang lebih kompleks, yang hanya bisa kita lakukan adalah harus selalu menyiapkan semua yang ia inginkan” jawab seorang wanita yang mengenakan gaun pesta kuning keemasan sambil menggerak gerakan kipasnya yang terbuat dari bulu angsa, “meskipun ia berumur 18 tahun, ia tetap Juliana kecilku” jawab pria yang bertahtakan ‘Raja’ itu, “Juliana kita adalah gadis tercantik dikota ini, lihatlah semua dandanan teman temannya, tak lebih dari boneka kerdil yang didandani, tapi Juliana kita berbeda, dia selalu terlihat cantik, anggun, dan berkelas, itulah sebab semua orang bisa langsung mengetahui kalau dia adalah anak raja”, “Juliana kita sudah cukup umur untuk menikah” potong sang istri “tidakah kau menyadari itu, wahai suamiku?” tanyanya, “tentu saja aku menyadarinya, aku selalu tahu apa yang dibutuhkan oleh satu satunya putri kita, karena itulah malam ini aku mengundang laki laki keturunan bangsawan dan pengeran dari kerajaan ternama, salah satu dari mereka akan meneruskan generasi di istana ini dan menjadi raja berikutnya, ingat istriku, kita harus memilihkan menantu yang cocok”.
“putri Juliana, kau tampak cantik dan anggun sekali malam ini, tangan putihmu sepertinya menginginkan gerakan, maukah kau berdansa denganku?” pinta seorang lelaki sambil membungkuk perlahan kearah Juliana, ia keturunan bangsawan, ayahnya pemilik perusahaan pembuat kapal terbesar  dinegara ini. “mohon maaf dengan teramat sangat, tuan, aku sedang tidak ada keinginan untuk berdansa, takutnya aku akan melakukan kesalahan dan itu akan membuatmu malu, sebaiknya kau berdansa dengan para gadis yang sudah memandangi mu dari tadi” jawab putri Juliana dengan suara lembutnya sambil tersenyum, biasanya senyuman ini akan memikat para lelaki dan mereka akan menuruti apa saja yang Juliana katakan, meskipun hanya dengan senyum palsu, “oh, maafkan aku sudah mengusik lamunanmu yang berharga, putri, aku akan menunggu disana kalau kalau kau mau berdansa denganku, permisi” lelaki itu pergi setelah membungkuk.
Entah sudah berapa kali Juliana menolak permintaan lelaki untuk berdansa, ia tidak peduli, sekarang ia hanya menunggu seseorang dengan perasaan gugup, saat cahaya bulan menerang, engkau hanya perlu duduk didekat jendela yang bersebrangan dengan pohon elm diruang pestamu, tataplah kebawah terus menerus, aku janji akan datang saat kau memikirkanku, wahai Juliana tercinta. Kata kata itu terus bergeming dan melewati telinganya. Apakah malam ini ia akan datang? Apakah ia merindukanku seperti aku merindukan dirinya? Selamatkah ia dalam perjalanan menuju kesini? Apa yang harus kulakukan kalau malam ini ia tidak kunjung datang?, satu demi satu pertanyaan memasuki pikiran Julia yang malang, sayangnya ia tidak dapat menjawab semua pertanyaan itu.
“juliana, oh juliana, aku tidak percaya kau masih menungguku, bisakah kau turun sekarang? Ada banyak sekali cerita yang harus kuceritakan padamu, Juliana”. Terdengar suara seorang lelaki yang berwibawa memanggil dari halaman istana ayah Juliana, Wajah Juliana yang pucat sekarang berubah menjadi merah merona, senyum lebarnya menandakan kebahagiaan dan rasa leganya, ia mengendap endap saat kedua orang tuanya berbincang bincang dengan para lelaki oportunis, ia menuruni tangga perlahan sambil memegangi gaunnya, bahkan pada saat terburu buru begitu pun, ia masih tetap terlihat anggun.
Juliana berjalan perlahan kearah kebun bunga mawarnya sambil mencari cari lelaki yang diharapkannya itu, “juliana!” panggil seorang lelaki yang keluar dari balik pohon elm, lelaki itu bertubuh tinggi, sedikit berisi, tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gendut, ia tersenyum , “kau tahu sudah berapa lama aku menunggumu, Remi? Kupikir kau tidak akan datang” kata Juliana sambil menunduk dan menunjukkan wajah masamnya. “maafkan aku ” kata Remi sambil berlutut dan mengecup tangan Juliana dengan lembut, membuat wajah gadis yang baru berumur 18 tahun itu merah merona seperti bunga mawar yang baru mekar, “aku harus menyiapkan berbagai hal untuk datang kesini” kata Remi sesaat setelah ia berdiri, “berbagai hal?” tanya Juliana penasaran sambil menaikkan alis coklatnya yang tebal, “ayo ikut aku” ajak Remi sambil menarik tangan julia, julia berjalan dibelakang sambil mengangkat rok gaunnya yang panjang.
Remi dan Juliana tiba didanau ‘takdir’ dihalaman istana keluarga Juliana. “kau lihat itu?” tanya Remi, “perahu? Kau membuatkanku perahu?” tanya Juliana yang penasaran melihat sebuah perahu kecil yang dicat berwarna kuning keemasan, dihiasi lentera lentara kecil, namun ada suatu benda di dalam perahu itu, kotak kayu berukuran sedang yang tertutup, Juliana pergi melihatnya, Remi mengikuti. “apa ini?” tanya Juliana, “kau akan segera tahu” jawab Remi, “sekarang naiklah keperahu., kemudian mereka berdua menaikki perahu itu dan Remi mendayung sampai ke bagian tengah danau ‘Takdir’.
“kau membuatkan perahu ini untukku, Remi? Jadi inikah alasan keterlambatan mu?”
“mohon maaf dengan teramat sangat, putri, sepertinya iya, kemarin malam aku membuatnya sendirian , aku harus menyiapkan kereta kuda berukuran besar agar bisa diisi dengan perahu ini, kuharap ayahku tidak tahu kalau aku mengambil satu kereta miliknya, aku menyeret perahu ini ketepian agar kita siap menggunakannya, semua ini kulakukan demi dirimu Juliana, selamat ulang tahun yang ke 18, putriku sayang, aku tidak akan lupa saat kau berkata padaku bahwa engkau ingin mendayung perahu bersamaku didanau ini, danau takdir, kau bilang bahwa jika ada sepasang kekasih yang mendayung perahu didanau ini selama 1 jam penuh, maka mereka akan menjadi satu selamanya, benar kan putriku? ” jelas Remi, tangannya yang kekar masih berusaha mendayung, “oh, aku sangat senang mendengar semua usahamu itu, Remi” seru Juliana dengan pipi merah merona, “lalu, apa isi kotak kayu ini?” tanya Juliana yang tidak dapat menyembunyikan ekspresinya yang penasaran, “ini kembang api, aku meminta pamanku yang tukang pedagang kembang api membuatkannya khusus untukku, aku yakin kau sangat menyukainya,”.
“kau mau menghidupkan kembang api ditengah halaman yang sepi begini? Oh, kumohon jangan” kata Juliana dengan nada cemas dan mencoba menjelaskan, “semua orang diistana akan mengetahuinya dan mereka akan menemukan kita, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh ayahku padamu kali ini, Remi”.
“tidak apa apa Juliana, aku sudah siap untuk itu, kita tidak bisa terus terusan bersembunyi begini, aku ingin terus terang kepada ayahmu, aku tidak tahu apa alasan ayahmu tidak menyukaiku, tapi semua akan kulakukan jika itu demi dirimu, putri Juliana”. Kata Remi dengan nada yang lembut namun berwibawa, kilatan tajam dimatanya seolah bisa menembus hati Julia yang sedang gundah gulana, ia menatap Remi, dan berkata “aku ragu akan itu, Remi, kau belum tahu mengenai ayahku, mungkin kali ini kau akan benar benar disakiti, ayahmu pasti tidak akan terima dan ini bisa jadi pemicu perang antar negeri kita, aku tidak mau itu terjadi, bila saatnya tepat aku pasti akan bilang pada ayahku mengenai kecintaanku padamu, aku mohon, tunggulah sampai saat itu tiba” jawab Juliana sambil memegang kedua pipi Remi yang dingin dan tersenyum menenangkan.
                Tiba tiba terdengar suara gemuruh dan kegaduhan dari arah halaman depan istana, terdengar dua tembakan, tiga tembakan, sampai lima tembakan meriam raksasa. Api merah besar menyala berkobar seolah hendak melahap semua yang bisa dilihatnya, api tersebut menjalar dari arah dinding bagian bawah depan sampai kehalaman samping istana keluarga Julia, terdengar kumpulan tembakan yang kedua, kini menyerang menara raja dan Juliana,terdengar jelas teriakan teriakan melolong dan rintihan orang orang yang berada didalam istana, lonceng peringatan berdentang 10 kali, ini menandakan situasi yang teramat darurat. kesunyian malam, hembusan angin yang menenangkan dan kerlap kerlip bintang kejora tidak dapat dinikmati kembali setelah semua tragedi mengerikan ini. Teriakan julia seolah memecah kengerian semua itu. “a... apa yang terjadi? Serangan? Ada serangan mendadak dari arah halaman depan!” teriak Julia, ia hendak meloncat dari perahu, “tunggu! Apa yang kau lakukan? Kau bisa mati beku jika berenang didanau ini!” tahan Remi sambil menarik tangan Julia yang gemetar, “sudah tidak ada waktu untuk mendayung ketepian, Remi!” potong Juliana “ayahku, ibuku dan semua orang disana sedang dalam bahaya! Aku tidak bisa berdiam diri disini!” pekik Julia, air matanya seolah berbicara mengenai kecemasannya itu, bibirnya bergetar hebat saat melihat kobaran api yang semakin membesar sudah melahap seperempat istana terbesar dinegeri itu. Remi yang ikut panik juga tidak dapat menghentikan perbuatan Julia yang hendak meloncat dari perahu, “oke, begini saja” kata Remi yang mencoba tenang “aku dan kau akan terjun dari perahu sampai ketepian, tapi kau harus berpegangan erat denganku, jangan sekali kali kau melepaskan tanganmu, sepanik apapun dirimu” kata Remi, Julia mengangguk setuju.
                Julia dan Remi meloncat berdua dan masuk kedanau, rambut Julia yang keriting keemasan kini menjadi lepek dan tidak berkilau lagi, gaun pestanya yang seharga dengan segudang emas dibiarkannya basah dan kotor terkena air danau, mahkota emasnya yang berkilau karena berlian dan tiara tiara kecil digenggamnya dengan erat karena sudah tiga kali hampir terjatuh, begitu juga dengan Remi, rambut coklatnya yang tebal kini terlihat seperti rumput laut yang menggupal, berbeda dengan Julia, Remi menggigit mahkota kepangeranannya dengan giginya yang kuat dan berwarna putih karena kedua tangannya memegangi kaki Julia yang digendongnya dibelakang, pasangan putri dan pangeran ini sudah tidak memperdulikan penampilan mereka lagi, yang dipikirkan Julia hanya satu, yaitu menyelamatkan kedua orang tuanya dan para pelayan istananya, ia berpikir “aku putri disini, dan aku akan melakukan apapun untuk melindungi rakyatku”, dan dipikiran Remi hanya satu, yaitu menyelamatkan Julia, ia akan melakukan apapun demi putri tercintanya yang cantik itu. Belum sampai mereka ke tepian, kaki Julia dan Remi sudah seperti membeku, mereka tidak tahan dengan dinginnya danau malam itu, nafas mereka terengah engah dan tubuh mereka gemetar, sedangkan kobaran api dengan cepat melahap istana dan halamannya, wajah Julia kini menjadi pucat pasi, matanya berkunang kunang dan kepalanya mulai sakit, Remi tidak akan diam saja melihat putrinya mengalami hal demikian meskipun keadaannya tak jauh beda dengan Julia, Remi bergegas menarik tangan Julia dan mempercepat gerakan renangnya, alhasil sekita 15 menit kemudian, mereka sampai ketepian, mereka berdua terbatu batuk dan memuntahkan air dari dalam tenggorokan mereka. Danau takdir memang mempunyai sihir yang amat mendalam didalamnya, ia akan membuat sepasang kekasih yang berduaan disana dalam kurun waktu satu jam menjadi satu selamanya. Sayang, Remi dan Julia hanya 50 menit berada didanau itu, sepasang kekasih yang berada disana dalam kurun waktu kurang dari satu jam tak akan bisa menyatu selamanya, namun apakah itu hanya mitos atau fakta? Yang hanya bisa anda lakukan adalah tetap diam dan membaca kisah ini sampai akhir.
                “semua orang sudah diungsikan kedalam ruang darurat kan!? Apa masih ada yang tinggal? Cepat katakan padaku!?” teriak komandan pasukan berkuda satu yang dari tadi sibuk mengungsikan orang orang, “cepat! Bawa orang orang yang terluka kedalam kereta! Beri perawatan seadanya dan antar kerumah sakit melalui saluran air bawah tanah!” pekik ia berkali kali, sosoknya yang berkumis dan beralis tebal dengan pedang panjang berwarna perak ditangannya. Aku tidak tahu apa keinginannya menyelamatkan orang orang sambil memegang pedang, mungkin dia hanya terbiasa. “tunggu, putri? Dimana putri Juliana?” kata raja yang hendak dibawa kedalam kereta kuda, padahal lukanya tidak terlalu parah, hanya gores kecil ditangan kanannya, ada anak kecil yang kepalanya berdarah hebat namun orang orang istana mendahulukan raja diobati terlebih dahulu, memang panggilan ‘raja’ bukan sekedar untuk main main. “ooh.. putriku? Apa ia masih didalam? Ia bisa mati ditelan kobaran api” kata sang ratu dengan nada cemas, ia menjerit dua kali setelahnya dan hampir pingsan, “tenang yang mulia, aku akan segera masuk kedalam dan menyelamatkan putri” kata komandan itu dengan cepat. “tunggu!” terdengar teriakan dari seorang gadis yang baru berumur 18 tahun “jangan panik, aku ada disini”, putri Juliana keluar dari belakang semak semak, dengan penampilan yang serba basah dan kotor ia tersenyum dengan percaya diri, meskipun kecantikannya tidak luntur, orang orang yang melihat penampilan putri yang basah kuyup itu tetap terkaget kaget. “sungguh penampilan yang menjijikkan Julia, apa yang kau lakukan sehingga menjadi begitu kotor? Seorang putri tidak boleh berpenampilan begitu didepan rakyatnya” pekik sang ratu, ia tidak malu sama sekali memarahi anak tunggalnya didepan semua orang. “sudahlah istriku, yang penting ia selamat” kata raja yang turun dari kereta, “seseorang cepat gantikan gaun putri dan suruh dia menunggu dikereta dengan penjagaan super ketat, aku tidak mau ia mengkhawatirkan semua orang”
“aku tidak mau! Aku tidak mau pergi dari sini sebelum aku dapat penjelasan ayah, siapa yang menyerang istana kita?” tanya Julia dengan nada cemas.
“pasukan dari negeri sebelah, putriku, aku tidak tahu apa yang membuat mereka menyerang istana kita, tapi mereka sudah dipukul mundur oleh pasukan berkuda terbaik kita” jawab raja “sekarang masuklah kekereta, ganti gaunmu itu”
“tapi... ada..” mulut julia tertahan saat ingin mengatakan mengenai remi yang masih menunggu dan bersembunyi dibalik semak semak sambil memperhatikannya. Tunggu dulu, ayah bilang yang menyerang istana mereka adalah tentara pasukan dari negeri seberang, apakah yang dimaksud adalah negeri tempat asal kekasihnya itu?
“ayah, apakah pasukan yang menyerang itu berasal dari negeri timur?” Julia berharap ayahnya berkata ‘bukan’.
“benar putriku” jawab ayahnya “aku tidak tahu apa yang membuat mereka begitu membenci negeri kita ini, mereka sudah bermusuhan dengan kita selama berabad abad, tinggal menunggu waktu sampai peperangan dimulai”. Satu satunya jantung putri julia berdetak hebat, ternyata saat ia dan pengeran dari negeri seberang itu berduaan didanau ‘takdir’, bala tentara dari negeri masing masing saling menyerang, sungguh kenyataan yang sangat menyakitkan menusuk nusuki pikirannya, ia sadar kalau ia tidak bisa menyatu dengan Remi, sekeras apapun usaha mereka berdua, Julia mengutuk dirinya sendiri yang seorang putri kelahiran istana negeri sebelah barat, andai saja Remi bukan orang timur dan ia bukan orang barat, andai saja ia bukan seorang putri, melainkan rakyat biasa, ia pasti sudah menikah dengan Remi dan hidup bahagia, namun kehidupan tidak selalu indah seperti didalam benak manusia.
                Julia masuk kedalam kereta diikuti para pelayan wanita yang sudah memegang gaun sutra, pakaian dalam, dan handuk, dan beberapa penata rambut juga turut masuk kedalam kereta itu. Julia bisa melihat keadaan istana tempat ia dibesarkan itu dari balik jendela keretanya, seperempat bagian dinding istana yang semula dicat dengan warna kuning emas dan biru langit kini menjadi hitam legam, untunglah orang orang istana banyak berkumpul diruang pesta, jadi mudah bagi mereka untuk menyelamatkan diri, mengingat ruangan pesta terletak dibagian yang jauh dari jangkauan api. Juliana tidak percaya bahwa semua kekacauan ini adalah ulah ayah kekasihnya sendiri, tunggu dulu, ia lupa akan kekasihnya yang menunggu disemak semak, apa Remi baik baik saja? Banyak sekali yang ingin ia utarakan kepada kekasihnya itu, namun ayahnya pasti tidak akan ijinkan putrinya keluar dari kereta sebelum selesai didandani, dan butuh waktu dua jam untuk mendandani putri, dalam kurun waktu yang cukup lama itu, sudah pasti membuat Remi jengah dan pulang ke negerinya lagi.
                Tiba tiba Juliana tersadar bahwa Remi memperhatikannya dari balik pohon pinus didepan istana, dengan kaget dan bahagia Juliana tersenyum kearah Remi, tidak satupun dari para pelayan menyadari ulah mereka berdua ini karena mereka sedang sibuk menata rambut Juliana yang sekarang keras karena air danau. Remi menggerakkan tangannya dan berbicara bahasa isyarat ala keluarga kerajaan, bisa dibilang begini percakapan mereka. “bisakah kita bertemu? Besok atau lusa?” jari jari Remi terampil memainkan bahasa isyaratnya, dan Juliana menjawab “aku tidak tahu, ayahku pasti akan mengurungku selama beberapa hari”
“aku akan mendatangimu setiap hari dan melihatmu meski hanya dari balik jendela, sampai jumpa putriku yang cantik”. Tak lama kemudian, Remi pun bergegas pergi, tanpa tahu kalau penyerangan ini didalangi oleh ayahnya sendiri, namun tragedi yang sangat mengerikan yang tidak bisa diterka oleh semua orang yang terlibat, terjadi setelah ini.
                Sesuai perkiraan Juliana, ia dikurung didalam kamarnya yang terletak dimenara istana, tak ada yang bisa ia lakukan selain membaca buku dan bermain kecapi, tangan Juliana yang ramping terlihat sangat anggun dengan musiknya yang menentramkan jiwa raga.
“Juliana, tak ada musik yang melebihi kemerduan yang dimainkan oleh tanganmu yang gemulai itu!” terdengar suara laki laki yang sudah lama ia kenal memanggilnya dengan suaranya yang penih wibawa, itu adalah suara Remi. Juliana tersontak kaget, dan berlari kearah balkon, benar dugaannya, Remi sudah menunggu dibawah dengan menyunggingkan senyumnya yang dapat membuat wanita meleleh.
“bisakah aku menemuimu? Wajahmu tampak sangat kecil dari sini, putriku” kata Remi dengan meletakkan tangan diatas alis tebalnya.
“ssstt.. jangan keras keras” bisik putri sambil menempelkan jari didepan bibirnya “aku akan mengambilkanmu tali, jadi tunggulah”. Sesaat kemudian Julia keluar menuju balkon sambil menurunkan tali kearah Remi dan ia mengikat sumbunya di tiang beranda balkonnya. Remi menangkap tali tersebut dengan lincah dan mulai memanjat menuju balkon Julia dengan sangat hati hati. Untunglah para tentara hanya berjaga di depan pintu kamar Julia dan tidak ada seorang pun yang berjaga disekitar balkon.
“bagaiman caranya kau bisa tahu kalau aku berada disini?” tanya Julia kepada Remi yang baru saja menjejakkan kaki dibalkonnya.
“semua putri biasanya dikurung didalam menara, dan ini menara yang paling tinggi, dan lagi aku bisa mendengar suara merdu kecapimu dari bawah sana” kata Remi sambil menggulung kembali tali yang diapakainya itu.
“emm.. Remi, apa kau sudah tahu kalau yang menyerang istana keluargaku kemarin adalah pasukan dari negerimu?” tanya Julia dengan gemetar, Remi tersontak kaget mendengarnya dan memegang pundak Julia, matanya berkaca kaca dan ia mulai berkata “benarkah? Benarkah itu Julia?”, julia hanya mengangguk pelan, membuat Remi semakin terjerumus kedalam rasa bersalahnya. “jadi, ayahku yang membuat semua ini? Ia hampir membunuh semua orang orang istana termasuk kekasihku sendiri, apa yang ada dibenak ayahku itu?”. Juliana menunduk dan menenangkan diri, ia menarik nafas dalam dalam dan berkata, “itu wajar kan? Negeri kita sudah lama bermusuhan dan tinggal menunggu waktu hingga perang sesungguhnya terjadi”, Remi hanya diam, Julia melanjutkan kata katanya “sudah tidak ada lagi yang bisa kita berdua lakukan, kita tidak bisa merubah apa apa, bagaimana kalau kita akhiri saja hubungan kita ini, Remi?” tanya Julia yang menahan air matanya. “apa?” tanya Remi “apa yang barusan kau ucapkan?”
“hubungan kita hanya akan membawa bencana, semakin dalam perasaan kita berdua, semakin banyak orang yang akan terluka, ini demi keselamatan keluarga kita, Remi, kau juga tidak ingin ayah dan ibumu celaka, kan, ini yang terbaik untuk kita, aku ingin kita bahagia, tidak dalam keadaan yang terbebani begini” kata Julia, kini air mata sudah mencapai kehernya yang jenjang. Perkataan Julia membuat remi sangat terkejut, rasa sedih, bingung dan marah berkecamuk dalam dadanya, namun sebagai laki laki, ia harus kuat. Remi duduk disebelah Julia menatap wajahnya lekat lekat dan menyibakkan rambutnya yang keriting. “Julia, apa yang kau katakan mungkin benar, namun apakah air matamu adalah kebahagiaan? Dari awal kau sudah menyadari bahwa kau tidak akan bahagia jika tidak bersamaku, begitu pula aku, maka dari itu, kumohon putri, berikan aku kesempatan untuk tetap menjadikanmu milikku, akan kulakukan apa saja demi melindungimu” kedua jempol tangan Remi menghapus air mata Julia, lalu ia memegang kedua pipi Julia yang merah dengan lembut mendekatkan jarak dengan perlahan, dan mulai mencium bibir Julia yang lembut dan merah dengan perlahan, Julia hanya menahan nafas pelan saat remi melakukann itu padanya untuk yang pertama kali, setelah melakukan itu, remi tersenyum hangat dan berkata “aku akan mulai berbicara dengan ayahku mengenai hubungan kita, kuharap ia bisa mengerti” setelah berkata begitu, Remi turun dengan menggunakan tali perlahan, Julia hanya tersenyum saat melihat kelakuan Remi yang terburu buru itu, saat melihat wajah Remi yang memerah, ia akhirnya mengerti.