Jumat, 27 April 2012

Destiny bagian 1


Juliana menghela nafas perlahan sambil membuka kaitan jendela satu demi satu dan mendorong kaca dengan tangannya yang halus berwarna putih pucat, tampak pemandangan malam sunyi sepi yang berbanding terbalik dengan suasana didalam istana, aliran rembulan yang menghunus diantara celah celah pohon elm raksasa terpatri jelas didanau ‘takdir’, patung nenek Elma dan paman Jacob yang berdiri tegak ditengah kebun bunga mawar yang membentuk labirin tampak hidup dan memainkan peran mereka kembali sebagai ratu dan penyelamat istana, meskipun Juliana cukup mengetahui tentang  sosok dua orang yang sudah lama gugur ini, ia memutuskan untuk tidak memikirkan mereka malam ini karena ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, perasaan yang sesak dan takut yang amat mendalam dari dasar hatinya, angin malam yang teramat dingin menggosok pipi lembutnya,, memainkan rambut yang keritingnya keemasan, lalu masuk ke sela sela gaun pestanya. ia menghembuskan nafas perlahan, menggosok gosok kedua pipi nya yang sudah lama memerah, hidung mancungnya mendengus berkali kali untuk mengeluarkan hawa hangat.
“sepertinya Juliana kecil kita tidak menyukai pesta ulang tahun yang sudah kita persiapkan selama tiga bulan terakhir ini, istriku” kata seorang pria yang sedang meminum anggur merah ditangan kirinya dan cerutu ditangan kanannya sambil menatap istrinya dengan lembut, “jangan terlalu diambil hati, suamiku, hari ini dia sudah berumur 18 tahun, ia bukan lagi gadis kecil yang suka duduk dipangkuanmu, Juliana kita sudah dewasa, dia pasti sedang punya masalah yang lebih kompleks, yang hanya bisa kita lakukan adalah harus selalu menyiapkan semua yang ia inginkan” jawab seorang wanita yang mengenakan gaun pesta kuning keemasan sambil menggerak gerakan kipasnya yang terbuat dari bulu angsa, “meskipun ia berumur 18 tahun, ia tetap Juliana kecilku” jawab pria yang bertahtakan ‘Raja’ itu, “Juliana kita adalah gadis tercantik dikota ini, lihatlah semua dandanan teman temannya, tak lebih dari boneka kerdil yang didandani, tapi Juliana kita berbeda, dia selalu terlihat cantik, anggun, dan berkelas, itulah sebab semua orang bisa langsung mengetahui kalau dia adalah anak raja”, “Juliana kita sudah cukup umur untuk menikah” potong sang istri “tidakah kau menyadari itu, wahai suamiku?” tanyanya, “tentu saja aku menyadarinya, aku selalu tahu apa yang dibutuhkan oleh satu satunya putri kita, karena itulah malam ini aku mengundang laki laki keturunan bangsawan dan pengeran dari kerajaan ternama, salah satu dari mereka akan meneruskan generasi di istana ini dan menjadi raja berikutnya, ingat istriku, kita harus memilihkan menantu yang cocok”.
“putri Juliana, kau tampak cantik dan anggun sekali malam ini, tangan putihmu sepertinya menginginkan gerakan, maukah kau berdansa denganku?” pinta seorang lelaki sambil membungkuk perlahan kearah Juliana, ia keturunan bangsawan, ayahnya pemilik perusahaan pembuat kapal terbesar  dinegara ini. “mohon maaf dengan teramat sangat, tuan, aku sedang tidak ada keinginan untuk berdansa, takutnya aku akan melakukan kesalahan dan itu akan membuatmu malu, sebaiknya kau berdansa dengan para gadis yang sudah memandangi mu dari tadi” jawab putri Juliana dengan suara lembutnya sambil tersenyum, biasanya senyuman ini akan memikat para lelaki dan mereka akan menuruti apa saja yang Juliana katakan, meskipun hanya dengan senyum palsu, “oh, maafkan aku sudah mengusik lamunanmu yang berharga, putri, aku akan menunggu disana kalau kalau kau mau berdansa denganku, permisi” lelaki itu pergi setelah membungkuk.
Entah sudah berapa kali Juliana menolak permintaan lelaki untuk berdansa, ia tidak peduli, sekarang ia hanya menunggu seseorang dengan perasaan gugup, saat cahaya bulan menerang, engkau hanya perlu duduk didekat jendela yang bersebrangan dengan pohon elm diruang pestamu, tataplah kebawah terus menerus, aku janji akan datang saat kau memikirkanku, wahai Juliana tercinta. Kata kata itu terus bergeming dan melewati telinganya. Apakah malam ini ia akan datang? Apakah ia merindukanku seperti aku merindukan dirinya? Selamatkah ia dalam perjalanan menuju kesini? Apa yang harus kulakukan kalau malam ini ia tidak kunjung datang?, satu demi satu pertanyaan memasuki pikiran Julia yang malang, sayangnya ia tidak dapat menjawab semua pertanyaan itu.
“juliana, oh juliana, aku tidak percaya kau masih menungguku, bisakah kau turun sekarang? Ada banyak sekali cerita yang harus kuceritakan padamu, Juliana”. Terdengar suara seorang lelaki yang berwibawa memanggil dari halaman istana ayah Juliana, Wajah Juliana yang pucat sekarang berubah menjadi merah merona, senyum lebarnya menandakan kebahagiaan dan rasa leganya, ia mengendap endap saat kedua orang tuanya berbincang bincang dengan para lelaki oportunis, ia menuruni tangga perlahan sambil memegangi gaunnya, bahkan pada saat terburu buru begitu pun, ia masih tetap terlihat anggun.
Juliana berjalan perlahan kearah kebun bunga mawarnya sambil mencari cari lelaki yang diharapkannya itu, “juliana!” panggil seorang lelaki yang keluar dari balik pohon elm, lelaki itu bertubuh tinggi, sedikit berisi, tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gendut, ia tersenyum , “kau tahu sudah berapa lama aku menunggumu, Remi? Kupikir kau tidak akan datang” kata Juliana sambil menunduk dan menunjukkan wajah masamnya. “maafkan aku ” kata Remi sambil berlutut dan mengecup tangan Juliana dengan lembut, membuat wajah gadis yang baru berumur 18 tahun itu merah merona seperti bunga mawar yang baru mekar, “aku harus menyiapkan berbagai hal untuk datang kesini” kata Remi sesaat setelah ia berdiri, “berbagai hal?” tanya Juliana penasaran sambil menaikkan alis coklatnya yang tebal, “ayo ikut aku” ajak Remi sambil menarik tangan julia, julia berjalan dibelakang sambil mengangkat rok gaunnya yang panjang.
Remi dan Juliana tiba didanau ‘takdir’ dihalaman istana keluarga Juliana. “kau lihat itu?” tanya Remi, “perahu? Kau membuatkanku perahu?” tanya Juliana yang penasaran melihat sebuah perahu kecil yang dicat berwarna kuning keemasan, dihiasi lentera lentara kecil, namun ada suatu benda di dalam perahu itu, kotak kayu berukuran sedang yang tertutup, Juliana pergi melihatnya, Remi mengikuti. “apa ini?” tanya Juliana, “kau akan segera tahu” jawab Remi, “sekarang naiklah keperahu., kemudian mereka berdua menaikki perahu itu dan Remi mendayung sampai ke bagian tengah danau ‘Takdir’.
“kau membuatkan perahu ini untukku, Remi? Jadi inikah alasan keterlambatan mu?”
“mohon maaf dengan teramat sangat, putri, sepertinya iya, kemarin malam aku membuatnya sendirian , aku harus menyiapkan kereta kuda berukuran besar agar bisa diisi dengan perahu ini, kuharap ayahku tidak tahu kalau aku mengambil satu kereta miliknya, aku menyeret perahu ini ketepian agar kita siap menggunakannya, semua ini kulakukan demi dirimu Juliana, selamat ulang tahun yang ke 18, putriku sayang, aku tidak akan lupa saat kau berkata padaku bahwa engkau ingin mendayung perahu bersamaku didanau ini, danau takdir, kau bilang bahwa jika ada sepasang kekasih yang mendayung perahu didanau ini selama 1 jam penuh, maka mereka akan menjadi satu selamanya, benar kan putriku? ” jelas Remi, tangannya yang kekar masih berusaha mendayung, “oh, aku sangat senang mendengar semua usahamu itu, Remi” seru Juliana dengan pipi merah merona, “lalu, apa isi kotak kayu ini?” tanya Juliana yang tidak dapat menyembunyikan ekspresinya yang penasaran, “ini kembang api, aku meminta pamanku yang tukang pedagang kembang api membuatkannya khusus untukku, aku yakin kau sangat menyukainya,”.
“kau mau menghidupkan kembang api ditengah halaman yang sepi begini? Oh, kumohon jangan” kata Juliana dengan nada cemas dan mencoba menjelaskan, “semua orang diistana akan mengetahuinya dan mereka akan menemukan kita, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh ayahku padamu kali ini, Remi”.
“tidak apa apa Juliana, aku sudah siap untuk itu, kita tidak bisa terus terusan bersembunyi begini, aku ingin terus terang kepada ayahmu, aku tidak tahu apa alasan ayahmu tidak menyukaiku, tapi semua akan kulakukan jika itu demi dirimu, putri Juliana”. Kata Remi dengan nada yang lembut namun berwibawa, kilatan tajam dimatanya seolah bisa menembus hati Julia yang sedang gundah gulana, ia menatap Remi, dan berkata “aku ragu akan itu, Remi, kau belum tahu mengenai ayahku, mungkin kali ini kau akan benar benar disakiti, ayahmu pasti tidak akan terima dan ini bisa jadi pemicu perang antar negeri kita, aku tidak mau itu terjadi, bila saatnya tepat aku pasti akan bilang pada ayahku mengenai kecintaanku padamu, aku mohon, tunggulah sampai saat itu tiba” jawab Juliana sambil memegang kedua pipi Remi yang dingin dan tersenyum menenangkan.
                Tiba tiba terdengar suara gemuruh dan kegaduhan dari arah halaman depan istana, terdengar dua tembakan, tiga tembakan, sampai lima tembakan meriam raksasa. Api merah besar menyala berkobar seolah hendak melahap semua yang bisa dilihatnya, api tersebut menjalar dari arah dinding bagian bawah depan sampai kehalaman samping istana keluarga Julia, terdengar kumpulan tembakan yang kedua, kini menyerang menara raja dan Juliana,terdengar jelas teriakan teriakan melolong dan rintihan orang orang yang berada didalam istana, lonceng peringatan berdentang 10 kali, ini menandakan situasi yang teramat darurat. kesunyian malam, hembusan angin yang menenangkan dan kerlap kerlip bintang kejora tidak dapat dinikmati kembali setelah semua tragedi mengerikan ini. Teriakan julia seolah memecah kengerian semua itu. “a... apa yang terjadi? Serangan? Ada serangan mendadak dari arah halaman depan!” teriak Julia, ia hendak meloncat dari perahu, “tunggu! Apa yang kau lakukan? Kau bisa mati beku jika berenang didanau ini!” tahan Remi sambil menarik tangan Julia yang gemetar, “sudah tidak ada waktu untuk mendayung ketepian, Remi!” potong Juliana “ayahku, ibuku dan semua orang disana sedang dalam bahaya! Aku tidak bisa berdiam diri disini!” pekik Julia, air matanya seolah berbicara mengenai kecemasannya itu, bibirnya bergetar hebat saat melihat kobaran api yang semakin membesar sudah melahap seperempat istana terbesar dinegeri itu. Remi yang ikut panik juga tidak dapat menghentikan perbuatan Julia yang hendak meloncat dari perahu, “oke, begini saja” kata Remi yang mencoba tenang “aku dan kau akan terjun dari perahu sampai ketepian, tapi kau harus berpegangan erat denganku, jangan sekali kali kau melepaskan tanganmu, sepanik apapun dirimu” kata Remi, Julia mengangguk setuju.
                Julia dan Remi meloncat berdua dan masuk kedanau, rambut Julia yang keriting keemasan kini menjadi lepek dan tidak berkilau lagi, gaun pestanya yang seharga dengan segudang emas dibiarkannya basah dan kotor terkena air danau, mahkota emasnya yang berkilau karena berlian dan tiara tiara kecil digenggamnya dengan erat karena sudah tiga kali hampir terjatuh, begitu juga dengan Remi, rambut coklatnya yang tebal kini terlihat seperti rumput laut yang menggupal, berbeda dengan Julia, Remi menggigit mahkota kepangeranannya dengan giginya yang kuat dan berwarna putih karena kedua tangannya memegangi kaki Julia yang digendongnya dibelakang, pasangan putri dan pangeran ini sudah tidak memperdulikan penampilan mereka lagi, yang dipikirkan Julia hanya satu, yaitu menyelamatkan kedua orang tuanya dan para pelayan istananya, ia berpikir “aku putri disini, dan aku akan melakukan apapun untuk melindungi rakyatku”, dan dipikiran Remi hanya satu, yaitu menyelamatkan Julia, ia akan melakukan apapun demi putri tercintanya yang cantik itu. Belum sampai mereka ke tepian, kaki Julia dan Remi sudah seperti membeku, mereka tidak tahan dengan dinginnya danau malam itu, nafas mereka terengah engah dan tubuh mereka gemetar, sedangkan kobaran api dengan cepat melahap istana dan halamannya, wajah Julia kini menjadi pucat pasi, matanya berkunang kunang dan kepalanya mulai sakit, Remi tidak akan diam saja melihat putrinya mengalami hal demikian meskipun keadaannya tak jauh beda dengan Julia, Remi bergegas menarik tangan Julia dan mempercepat gerakan renangnya, alhasil sekita 15 menit kemudian, mereka sampai ketepian, mereka berdua terbatu batuk dan memuntahkan air dari dalam tenggorokan mereka. Danau takdir memang mempunyai sihir yang amat mendalam didalamnya, ia akan membuat sepasang kekasih yang berduaan disana dalam kurun waktu satu jam menjadi satu selamanya. Sayang, Remi dan Julia hanya 50 menit berada didanau itu, sepasang kekasih yang berada disana dalam kurun waktu kurang dari satu jam tak akan bisa menyatu selamanya, namun apakah itu hanya mitos atau fakta? Yang hanya bisa anda lakukan adalah tetap diam dan membaca kisah ini sampai akhir.
                “semua orang sudah diungsikan kedalam ruang darurat kan!? Apa masih ada yang tinggal? Cepat katakan padaku!?” teriak komandan pasukan berkuda satu yang dari tadi sibuk mengungsikan orang orang, “cepat! Bawa orang orang yang terluka kedalam kereta! Beri perawatan seadanya dan antar kerumah sakit melalui saluran air bawah tanah!” pekik ia berkali kali, sosoknya yang berkumis dan beralis tebal dengan pedang panjang berwarna perak ditangannya. Aku tidak tahu apa keinginannya menyelamatkan orang orang sambil memegang pedang, mungkin dia hanya terbiasa. “tunggu, putri? Dimana putri Juliana?” kata raja yang hendak dibawa kedalam kereta kuda, padahal lukanya tidak terlalu parah, hanya gores kecil ditangan kanannya, ada anak kecil yang kepalanya berdarah hebat namun orang orang istana mendahulukan raja diobati terlebih dahulu, memang panggilan ‘raja’ bukan sekedar untuk main main. “ooh.. putriku? Apa ia masih didalam? Ia bisa mati ditelan kobaran api” kata sang ratu dengan nada cemas, ia menjerit dua kali setelahnya dan hampir pingsan, “tenang yang mulia, aku akan segera masuk kedalam dan menyelamatkan putri” kata komandan itu dengan cepat. “tunggu!” terdengar teriakan dari seorang gadis yang baru berumur 18 tahun “jangan panik, aku ada disini”, putri Juliana keluar dari belakang semak semak, dengan penampilan yang serba basah dan kotor ia tersenyum dengan percaya diri, meskipun kecantikannya tidak luntur, orang orang yang melihat penampilan putri yang basah kuyup itu tetap terkaget kaget. “sungguh penampilan yang menjijikkan Julia, apa yang kau lakukan sehingga menjadi begitu kotor? Seorang putri tidak boleh berpenampilan begitu didepan rakyatnya” pekik sang ratu, ia tidak malu sama sekali memarahi anak tunggalnya didepan semua orang. “sudahlah istriku, yang penting ia selamat” kata raja yang turun dari kereta, “seseorang cepat gantikan gaun putri dan suruh dia menunggu dikereta dengan penjagaan super ketat, aku tidak mau ia mengkhawatirkan semua orang”
“aku tidak mau! Aku tidak mau pergi dari sini sebelum aku dapat penjelasan ayah, siapa yang menyerang istana kita?” tanya Julia dengan nada cemas.
“pasukan dari negeri sebelah, putriku, aku tidak tahu apa yang membuat mereka menyerang istana kita, tapi mereka sudah dipukul mundur oleh pasukan berkuda terbaik kita” jawab raja “sekarang masuklah kekereta, ganti gaunmu itu”
“tapi... ada..” mulut julia tertahan saat ingin mengatakan mengenai remi yang masih menunggu dan bersembunyi dibalik semak semak sambil memperhatikannya. Tunggu dulu, ayah bilang yang menyerang istana mereka adalah tentara pasukan dari negeri seberang, apakah yang dimaksud adalah negeri tempat asal kekasihnya itu?
“ayah, apakah pasukan yang menyerang itu berasal dari negeri timur?” Julia berharap ayahnya berkata ‘bukan’.
“benar putriku” jawab ayahnya “aku tidak tahu apa yang membuat mereka begitu membenci negeri kita ini, mereka sudah bermusuhan dengan kita selama berabad abad, tinggal menunggu waktu sampai peperangan dimulai”. Satu satunya jantung putri julia berdetak hebat, ternyata saat ia dan pengeran dari negeri seberang itu berduaan didanau ‘takdir’, bala tentara dari negeri masing masing saling menyerang, sungguh kenyataan yang sangat menyakitkan menusuk nusuki pikirannya, ia sadar kalau ia tidak bisa menyatu dengan Remi, sekeras apapun usaha mereka berdua, Julia mengutuk dirinya sendiri yang seorang putri kelahiran istana negeri sebelah barat, andai saja Remi bukan orang timur dan ia bukan orang barat, andai saja ia bukan seorang putri, melainkan rakyat biasa, ia pasti sudah menikah dengan Remi dan hidup bahagia, namun kehidupan tidak selalu indah seperti didalam benak manusia.
                Julia masuk kedalam kereta diikuti para pelayan wanita yang sudah memegang gaun sutra, pakaian dalam, dan handuk, dan beberapa penata rambut juga turut masuk kedalam kereta itu. Julia bisa melihat keadaan istana tempat ia dibesarkan itu dari balik jendela keretanya, seperempat bagian dinding istana yang semula dicat dengan warna kuning emas dan biru langit kini menjadi hitam legam, untunglah orang orang istana banyak berkumpul diruang pesta, jadi mudah bagi mereka untuk menyelamatkan diri, mengingat ruangan pesta terletak dibagian yang jauh dari jangkauan api. Juliana tidak percaya bahwa semua kekacauan ini adalah ulah ayah kekasihnya sendiri, tunggu dulu, ia lupa akan kekasihnya yang menunggu disemak semak, apa Remi baik baik saja? Banyak sekali yang ingin ia utarakan kepada kekasihnya itu, namun ayahnya pasti tidak akan ijinkan putrinya keluar dari kereta sebelum selesai didandani, dan butuh waktu dua jam untuk mendandani putri, dalam kurun waktu yang cukup lama itu, sudah pasti membuat Remi jengah dan pulang ke negerinya lagi.
                Tiba tiba Juliana tersadar bahwa Remi memperhatikannya dari balik pohon pinus didepan istana, dengan kaget dan bahagia Juliana tersenyum kearah Remi, tidak satupun dari para pelayan menyadari ulah mereka berdua ini karena mereka sedang sibuk menata rambut Juliana yang sekarang keras karena air danau. Remi menggerakkan tangannya dan berbicara bahasa isyarat ala keluarga kerajaan, bisa dibilang begini percakapan mereka. “bisakah kita bertemu? Besok atau lusa?” jari jari Remi terampil memainkan bahasa isyaratnya, dan Juliana menjawab “aku tidak tahu, ayahku pasti akan mengurungku selama beberapa hari”
“aku akan mendatangimu setiap hari dan melihatmu meski hanya dari balik jendela, sampai jumpa putriku yang cantik”. Tak lama kemudian, Remi pun bergegas pergi, tanpa tahu kalau penyerangan ini didalangi oleh ayahnya sendiri, namun tragedi yang sangat mengerikan yang tidak bisa diterka oleh semua orang yang terlibat, terjadi setelah ini.
                Sesuai perkiraan Juliana, ia dikurung didalam kamarnya yang terletak dimenara istana, tak ada yang bisa ia lakukan selain membaca buku dan bermain kecapi, tangan Juliana yang ramping terlihat sangat anggun dengan musiknya yang menentramkan jiwa raga.
“Juliana, tak ada musik yang melebihi kemerduan yang dimainkan oleh tanganmu yang gemulai itu!” terdengar suara laki laki yang sudah lama ia kenal memanggilnya dengan suaranya yang penih wibawa, itu adalah suara Remi. Juliana tersontak kaget, dan berlari kearah balkon, benar dugaannya, Remi sudah menunggu dibawah dengan menyunggingkan senyumnya yang dapat membuat wanita meleleh.
“bisakah aku menemuimu? Wajahmu tampak sangat kecil dari sini, putriku” kata Remi dengan meletakkan tangan diatas alis tebalnya.
“ssstt.. jangan keras keras” bisik putri sambil menempelkan jari didepan bibirnya “aku akan mengambilkanmu tali, jadi tunggulah”. Sesaat kemudian Julia keluar menuju balkon sambil menurunkan tali kearah Remi dan ia mengikat sumbunya di tiang beranda balkonnya. Remi menangkap tali tersebut dengan lincah dan mulai memanjat menuju balkon Julia dengan sangat hati hati. Untunglah para tentara hanya berjaga di depan pintu kamar Julia dan tidak ada seorang pun yang berjaga disekitar balkon.
“bagaiman caranya kau bisa tahu kalau aku berada disini?” tanya Julia kepada Remi yang baru saja menjejakkan kaki dibalkonnya.
“semua putri biasanya dikurung didalam menara, dan ini menara yang paling tinggi, dan lagi aku bisa mendengar suara merdu kecapimu dari bawah sana” kata Remi sambil menggulung kembali tali yang diapakainya itu.
“emm.. Remi, apa kau sudah tahu kalau yang menyerang istana keluargaku kemarin adalah pasukan dari negerimu?” tanya Julia dengan gemetar, Remi tersontak kaget mendengarnya dan memegang pundak Julia, matanya berkaca kaca dan ia mulai berkata “benarkah? Benarkah itu Julia?”, julia hanya mengangguk pelan, membuat Remi semakin terjerumus kedalam rasa bersalahnya. “jadi, ayahku yang membuat semua ini? Ia hampir membunuh semua orang orang istana termasuk kekasihku sendiri, apa yang ada dibenak ayahku itu?”. Juliana menunduk dan menenangkan diri, ia menarik nafas dalam dalam dan berkata, “itu wajar kan? Negeri kita sudah lama bermusuhan dan tinggal menunggu waktu hingga perang sesungguhnya terjadi”, Remi hanya diam, Julia melanjutkan kata katanya “sudah tidak ada lagi yang bisa kita berdua lakukan, kita tidak bisa merubah apa apa, bagaimana kalau kita akhiri saja hubungan kita ini, Remi?” tanya Julia yang menahan air matanya. “apa?” tanya Remi “apa yang barusan kau ucapkan?”
“hubungan kita hanya akan membawa bencana, semakin dalam perasaan kita berdua, semakin banyak orang yang akan terluka, ini demi keselamatan keluarga kita, Remi, kau juga tidak ingin ayah dan ibumu celaka, kan, ini yang terbaik untuk kita, aku ingin kita bahagia, tidak dalam keadaan yang terbebani begini” kata Julia, kini air mata sudah mencapai kehernya yang jenjang. Perkataan Julia membuat remi sangat terkejut, rasa sedih, bingung dan marah berkecamuk dalam dadanya, namun sebagai laki laki, ia harus kuat. Remi duduk disebelah Julia menatap wajahnya lekat lekat dan menyibakkan rambutnya yang keriting. “Julia, apa yang kau katakan mungkin benar, namun apakah air matamu adalah kebahagiaan? Dari awal kau sudah menyadari bahwa kau tidak akan bahagia jika tidak bersamaku, begitu pula aku, maka dari itu, kumohon putri, berikan aku kesempatan untuk tetap menjadikanmu milikku, akan kulakukan apa saja demi melindungimu” kedua jempol tangan Remi menghapus air mata Julia, lalu ia memegang kedua pipi Julia yang merah dengan lembut mendekatkan jarak dengan perlahan, dan mulai mencium bibir Julia yang lembut dan merah dengan perlahan, Julia hanya menahan nafas pelan saat remi melakukann itu padanya untuk yang pertama kali, setelah melakukan itu, remi tersenyum hangat dan berkata “aku akan mulai berbicara dengan ayahku mengenai hubungan kita, kuharap ia bisa mengerti” setelah berkata begitu, Remi turun dengan menggunakan tali perlahan, Julia hanya tersenyum saat melihat kelakuan Remi yang terburu buru itu, saat melihat wajah Remi yang memerah, ia akhirnya mengerti.

Sabtu, 26 November 2011

Love song


“kata mama kalau aku sudah berumur 17 tahun, akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih daripada ditahun tahun sebelumnya, kau tahu?” aku mengatakan apa yang dikatakan mamaku kemarin, lalu ia menatapku dengan bingung, “aku tak begitu mengerti, kebahagiaan yang seperti apa?” aku senang dia bertanya, lalu aku menjawab “aku tidak tahu, makanya aku tak sabar menunggu 10 tahun lagi”,
“kalau begitu aku akan memberikan hadiah terindah saat kau berumur tujuh belas tahun nanti”
 aku sangat senang mendengarnya dan tanpa sadar aku berdiri kehadapannya, “benarkah begitu? Kalau begitu aku juga akan memberimu hadiah saat kau juga berumur 17 tahun seperti aku, janji ya”,
“iya,nanti kita akan bertemu lagi disini untuk memberikan hadiah masing masing ya”. Aku takkan lupa janji itu, dimana aku melilitkan kelingkingku dengan kelingkingnya, dibawah pohon apel dibelakang rumahku.
****
            Tok tok tok, terdengar seperti seorang monster sedang menggedor gedor pintu, “Opi! Opi! Cepat bangun, Ian sudah datang menjemput!” “iya, ma! Sebentar lagi” aku sedang berdandan untuk pergi kesekolah, melilitkan dasi dileher membutuhkan waktu yang cukup lama bagiku karena aku tak terlalu hafal caranya, lalu aku berlari terburu buru menuruni tangga dan keluar rumah. Disana berdiri sosok anak laki laki egois yang sangat familiar dimataku “lama amat sih, kalo gini bisa telat nih” aku hanya memasang senyum kelelahan padanya dan mulai berjalan membuntutinya dari belakang menuju sekolah.
            Semalam aku tidur sangat malam karena aku harus kerja paruh waktu hingga malam, kerjaku adalah memainkan piano kesatu kafe ke kafe lain, sejak kecil aku sangat mahir memainkan piano dan aku cukup percaya diri dengan bakatku, honor yang kuterima juga cukup besar, jadi tak ada salahnya kan. Mamaku sangat mengkhawatirkanku yang terus bekerja hingga malam, aku sudah bilang berkali kali tak perlu khawatir karena aku ingin berusaha sendiri dan semua akan baik baik saja.
            Tujuanku bekerja paruh waktu hingga malam karena ingin memberikan hadiah ulang tahun ke 17 sahabatku, Ian. Aku ingin memberikannya biola yang cukup mahal karena Ian sangat mahir main biola, kalau biolanya bagus pasti lagunya akan tambah bagus. Pasti ia akan sangat bahagia karena sudah lama ia menginginka biola itu. Aku takkan lupa janji 9 tahun yang lalu, pasti Ian juga memikirkannya, apa yang akan Ian berikan untukku ya?
            “ciiie ciiie, suami istri datang kesekolah berdua lagi nih, romatiiiis bangeet” “kenapa kalian gak jadian aja? Kan cocok”, “kalo jadian jangan lupa traktir ya”, rayuan rayuan menyebalkan barusan datang dari beberapa teman sekelasku, karena aku dan Ian sangat dekat dan sering terlihat bersama, kami digosipkan begini. Sejujurnya aku agak senang mendengarnya, karena sepertinya aku mempunyai sedikit perasaan padanya, wajahku tiba tiba memerah dan berkata, “apaan sih kalian ini? Kami gak ada hubungan apa apa tahu”. Sesaat bilang begitu aku menoleh kearah Ian, wajahnya biasa saja dan tak ada tanda tanda salah tingkah sedikitpun, aku tahu Ian cuma menganggapku sebagai teman, padahal dulu dia begitu lucu.
            “aduh aku gak tahu jawabannya nih” kepalaku sangat sakit melihat soal soal matematika yang tak dapat kujawab, dari dulu aku memang tak begitu pintar, masuk sepuluh besar saja hanya untung untungan, saat menghela nafas aku mendengar Ian memanggilku. “ssst, Opi, Opi!” spontan aku menoleh kearahnya dan ia berbisik “ini jawaban nomor satu sampai lima, jangan sampai ketahuan guru, ya” bisiknya sambil memberikan kertas contekan. Ian memang sangat pintar, juara satu berturut turut dari SD, sangat jauh dibandingkan aku. “makasih banget ya, nanti aku masakin kue coklat deh”
            Bel pulang sekolah sudah berbunyi, dan saatnya pergi dari penjara itu. “nggak pergi, nggak pulang, kamu ini selalu telat ya” Ian masih mengomel ngomel seperti biasanya, “iya iya, aku lagi masukin buku nih, lumayan banyak” tak lama setelah itu muncul teman Ian dan berkata “tadi pertandingannya hebat banget lho, berhasil cetak 4 gol berturut turut, hebat banget kamu!”
 “oh makasih”
Ian hanya garuk garuk kepala dan sedikit malu malu. Aku tersenyum mendengarnya, Ian anak yang pintar, jago olahraga dan pintar main biola tak hanya itu wajahnya juga lumayan, diatas rata rata wajah cowok biasanya,saat aku jalan berdua dengannya, cukup banyak para gadis lain yang memelototiku, aku merasa sangat cocok padanya, karena kami berdua sama sama pencinta musik.
            “sore nanti kerumahku ya Opi, aku sudah punya lagu yang kuciptakan sendiri” “ya tentu!”. Saat sampai dirumah aku tak sabar menunggunya, mencoba coba baju baju yang cocok kupakai kesana. Mamaku hanya menghela nafas dan berkata “kamu itu sebenarnya mau kemana sih? Pakai itu, pakai ini, pusing mama” “Cuma kerumah Ian kok ma, meskipun hanya sebelah sini aku kan cuma ingin tampil sedikit bagus, apa salahnya?” sekali lagi mama menghela nafas dan pergi meninggalkan kamarku, “kalau kamu lapar, tinggal turun kebawah makanan sudah siap”
            “wah sudah datang, duduk duduk, dengerin ya” aku hanya menatapnya yang sedang bermain biola dengan mempesona, kalau ia sedang bermain biola ia terlihat 100 kali lebih tampan dari biasanya, bagaikan seorang utusan Tuhan yang datang dari langit untukku, aku tak akan pernah bosan meskipun lebih dari 2 jam hanya menatap wajahnya, sekarang aku benar benar menyadari kalau aku mencintainya. “bagus kan? Aku amat percaya diri, lho. Baik, satu lagu lagi” tak lama setelah itu, salah satu senar biolanya putus dan jarinya terluka. “ah! Kau tak apa apa, Ian?” “tak apa, Cuma tergores sedikit, tolong ambilkan kotak obat” aku membalut jarinya yang terluka dengan plester, wajahnya tampak sedih, tak lama kemudian ia berkata, “biola usang ini pemberian ayahku saat aku berumur 6 tahun, aku sangat menyayanginya. Aku sangat sedih mendengarnya, tapi tak lama ini kau akan mendapatkan biola dariku yang akan kau sayangi, aku mengatakannya dalam hati.
            Hari demi hari berlalu, dan saat ini aku sudah kelas 3 SMA. Masa masa yang sulit dimana kita harus benar benar memikirkan sesuatu kedepan, apa yang akan kita lakukan dan sebagainya. Karena aku mencintai Ian, aku ingin tahu apa cita citanya “Ian, kalau nanti kau mau jadi apa?” dia terlihat acuh tak acuh menjawabnya, “aku? Mungkin dokter atau dosen”“begitu ya” pikirku, lalu aku dengan senang berkata “kalau aku ingin berada disebuah panggung mewah dan memainkan piano terbaikku, lalu diakui sebagai pianis internasional” “hmmm” aku kecewa mendengarnya, Ian hanya menjawab ‘hmmm’, mungkin dari awal ia memang tak perduli padaku.
            Saat jam makan siang disekolah tiba, Ian duduk disampingku dan makan dengan lahapnya, meskipun aku sudah terbiasa, tapi tiap hari debaran hatiku makin kencang bila berada didekatnya. Karena aku selalu memperhatikannya, aku tahu dari tadi ia melihat ketempat lain. “kau lihat apa?” sadar aku tengah memperhatikannya, ia tersipu malu, “aku lihat cewek cantik disana” mendengarnya aku tersentak kaget, “apa!? Yang mana?” “itu, cewek yang duduk dekat teman temannya itu, yang pakai kuncit pita” spontan aku langsung mencari dimana posisi gadis itu, aku melihat gadis yang amat cantik, wajahnya begitu putih dan tubuhnya bagus. “kau suka cewek itu?” “iya” katanya tersipu malu.
            Aku hanya bisa menatap wajahku dicermin kamarku saat ini, aku melihat seorang gadis yang berkulit agak hitam dan sedikit gendut, wajah yang berjerawat dan rambut yang selalu acak acakan, kalau dibandingkan dengan gadis yang disukai Ian tadi, sangat jauh berbeda, jauh berbeda, seperti angsa putih dan itik buruk rupa. Aku tak tahu apa perasaanku saat ini, mungkin patah hati, sedih sekali. Padahal kukira Ian juga mencintaiku, ternyata ia hanya menganggapku teman dan mencintai gadis cantik lain, aku sangat bodoh terlalu percaya diri, padahal sebenarnya memang aku tak pantas untuk Ian.
            Tiga hari aku menyelidiki tentang gadis itu, ternyata namanya Viona, namanya saja sudah jauh lebih bagus dari namaku, dari SMP ia juara 1 sampai sekarang, kapten cheers disekolah dan banyak digemari para lelaki. Mungkin ia yang lebih cocok untuk Ian yang begitu sempurna. Tak terasa air mataku menetes, perasaan ku saat ini sangat hancur, sakit dibagian dada. Benarkah ini yang namanya patah hati? Ternyata cinta itu begitu menyedihkan.
            “hei, kok akhir akhir ini wajahmu murung sih, tambah jelek tuh” Ian menyapaku, tapi aku tak begitu senang, “tak apa” aku sangat berharap setelah ini ia akan menghiburku, tapi ternyata tidak. “oh iya, Pi. Kamu inget kan cewek yang aku tunjuk waktu itu? Aku kepingin nyapa dia nih, gimana caranya” aku sangat jengkel mendengarnya, “ya sapa aja gitu, gitu aja kok susah” “kok kamu sekarang gitu sih, payah ah” Ian berbalik badan dan pergi menelusuri koridor, aku hanya menatapnya dan menahan agar mata ini tak menetes lagi.
            Besok adalah hari ulang tahun kami berdua yang ke tujuh belas, kami memang lahir disaat yang sama, kebetulan yang menyenangkan. Saatnya untuk memberikan kado terindah sesuai janji, tapi dengan keadaan begini aku tak tahu bisa memberikannya atau tidak, semakin lama aku semakin sering melihat Ian memperhatikan gadis itu, itu sangat membuatku sakit. Meskipun begitu, aku tak boleh ingkar janji, aku sudah membelikan biola mahal untuknya dari hasil kerja paruh waktuku selama 4 tahun, besok akan kuhadiahkan padanya.
            Semalaman aku tak bisa tidur memikirkan apa reaksi Ian menerima hadiah dariku ini, meskipun selama ini kami tak pernah ungkit ungkit lagi tentang janji itu, aku yakin ia takkan pernah lupa. Apa yang akan dia hadiahkan padaku? Pertanyaan itu selalu terngiang ngiang di kepalaku. Kalau sedang bingung aku selalu bermain piano, memainkan lagu lagu dari musisi favoritku, karena rumah aku dan Ian berseblahan, aku ingin ia mendengarnya. Agar ia tak lupa kalau besok adalah hari ulang tahunku.
            Sepulang sekolah aku membungkus biola itu dengan rapi, dengan bungkus kado berwarna coklat, warna kesukaannya, dengan harapan ia sangat senang menerimanya. Setelah semua selesai, aku berlari kehalaman belakang rumahku, di bawah pohon apel tempat dimana terselenggaranya janji penting itu. Rumahku tak punya pagar, jadi Ian bisa masuk kapan saja kehalamanku. Namun disana tak ada siapapun, hanya aku. Mungkin Ian sedang bersiap siap, lalu aku menunggu tanpa beranjak kemana mana, sudah lebih dari 2 jam aku menunggu, hari hampir gelap. Perasaanku amat kecewa saat itu, pasti Ian sudah lupa akan janji penting itu.
            Meskipun ia tak menepati janji, aku tetap pergi kerumahnya agar aku yang akan menepati janji. Aku mengetok pintu berkali kali, dan muncullah Ian. “ada apa?” secepatnya aku menyembunyikkan bungkusan biola kebelakang tubuhku. “a..anu, aku..” aku sangat gugup mengatakannya, karena saat ini Ian agak lain, wajahnya terlihat lebih garang seperti biasanya. “kalau tak ada urusan apa apa, pergi sana” aku tersontak kaget mendengarnya, tak lama kemudian ia bicara lagi, “tadi aku ditolak Viona, katanya aku tak pantas untuknya, aku sekarang lagi bad mood tak mau ketemu siapa siapa dulu”
            Dengan cepat aku langsung berkata, “ini hadiah untukmu, hadiah terindah yang merupakan janji kita dulu, aku takkan lupa” Ian menatapku, lalu melempar hadiah itu lebih dari 3 meter kedepan dan berteriak “aku tak butuh itu! Aku tak butuh hadiah dari janji konyol itu! Sekarang yang kubutuhkan hanya cinta dari Viona!” aku sangat kaget, sedih, marah dan bercampur jadi satu, hadiah itu adalah hasil dari jeri payahku, tanpa sadar menangis dihadapannya, “kenapa kau seperti ini? Padahal aku sudah berusaha, aku tak akan mengecewakanmu, tapi ini balasanmu, maaf aku sudah salah menilaimu” aku berlari menuju rumah dan membanting pintu, menghabiskan waktu lebih dari 2 jam untuk menangis.
            Besoknya aku bangun jauh lebih pagi agar tak ketemu Ian, dikelas aku tak mau melihatnya lagi, lalu saat makan siang aku sengaja makan siang dihalaman belakang sekolah, semua itu kulakukan agar tak bertemu Ian, aku sudah membencinya, tak mau menganggapnya teman lagi, kupikir Ian juga akan berpikir begitu padaku. Hal hal yang kulakukan sangat tak menyenangkan, hatiku masih sangat sakit kalau mengingat kejadian kemarin.
            Home dalam facebookku hampir semua dipenuhi oleh statusnya mengenai Viona, katanya Viona masih memberinya harapan. Aku merasa sangat jengkel melihatnya, segera kuputuskan kabel koneksinya dan pergi tidur, tiba tiba aku mendengar suara seperti orang sedang marah marah, aku menyadari bahwa itu adalah suara Ian, segera kubuka jendela dan melihatnya. Ternyata ia sedang marah marah ditelepon, “kau bilang kau memberiku harapan? Kenapa ini yang kau lakukan padaku!?” aku mengetahui kalau ia sedang menelepon Viona, mereka sedang bertengkar, aku tahu Ian tak akan diterima oleh Viona.
            Aku sedikit kasihan padanya, sejak kecil Ian cengeng, penakut dan egois. Dengan sifat kekanakkan itu aku yakin ia tak akan bisa melewati cintanya yang begitu rumit, meskipun aku masih sangat kesal padanya tapi aku ingin memainkan lagu dengan pianoku, lagu untuk menghiburnya. Segera kumainkan piano dan kubuka jendela lebar lebar agar ia bisa melihatku, aku tahu Ian pasti menyadari kalau aku sedang menghibur dirinya, karena aku sudah menceritakan arti lagu ini. Aku menangis sambil bermain piano, entah sedih atau senang, tapi mungkin aku senang, meskipun aku bukan untuknya, aku tetap akan membuatnya bahagia dan tak akan mengecewakannya karena aku masih mencintainya meskipun ia sudah kasar padaku.
            Sudah lebih dari 1 jam aku memainkan lagu itu, aku tak peduli ia mendengarnya atau tidak, yang penting aku akan terus ada untuknya. Tak lama setelah itu aku mendengar suara bel rumahku berbunyi, dengan cepat aku membuka pintu, ternyata Ian. Aku tersontak kaget, dan tak bisa menatap wajahnya. “maafkan aku” aku melihat wajahnya dan ia berkata lagi, “maafkan aku sudah kasar padamu, maafkan aku tak menepati janji, maafkan aku sudah membuatmu menangis,aku sangat menyukai biola yang kau beli, aku sangat senang kau memberikannya padaku, tapi aku sangat bodoh karena tak menyadari kalau kau selalu ada untukku, kau yang paling mengerti aku, dan kau yang sudah membuatku bahagia selama ini, sekali lagi maafkan aku, aku memang patut kau benci, aku memang lelaki menyedihkan” setelah berkata begitu Ian menangis, aku juga menangis.
            “tak apa, aku sangat senang kau sudah minta maaf, hapus air matamu, lelaki tak seharusnya menangis” ia menghapus air matanya dan berkata “aku akan menepati janji, sekarang ganti bajumu yang bagus” “apa?” “sudahlah ganti saja, cepat ya aku menunggu disini” aku tak mengerti apa yang ia katakan, segera aku berganti baju dan ia menutup mataku dengan kain, setelahnya aku mulai membuka mata. Aku berada diatas panggung dimana banyak orang berkumpul, “apa ini?” “kau ingin jadi pianis terkenal kan? Bermainlah disini, aku yakin bisa” “apa?” aku sangat gugup karena tak pernah bermain piano didepan orang sebanyak ini.
            Aku hanya melakukan yang terbaik, bermain sebisaku sampai lagu selesai, aku sangat lega ketika selesai, keringat dingin dari tubuhku bercucuran, tapi tak lama setelah itu tepuk tangan para penonton yang meriah membuatku sangat bangga, lalu sang juri mulai berbicara, “permainan yang bagus untuk pemula seperti kau, malam ini kau yang jadi juaranya, ini langkah pertamamu untuk menuju internasional” aku sangat senang setengah mati mendengarnya, hampir menangis terharu, lalu Ian muncul dari balik panggung dan berkata “ini hadiah untukmu yang sudah kujanjikkan, nikmatilah”
            Malam sudah mulai larut, aku dan Ian tetap memandang langit bersama dengan perasaan lega, ia mulai membuka bungkus biola baru dariku dan memainkan lagu itu lagi, lagu baru yang diciptakannya, jauh lebih bagus dari kemarin. “kau tahu, waktu itu aku belum memberi lagu ini judul, tapi sekarang aku sudah tahu judulnya, ‘love song’ karena lagu ini hanya kumainkan dihadapanmu, aku mencintaimu Opi” aku tersenyum lega mendengarnya dan berkata “aku juga mencintaimu”. Sekarang aku tahu kebahagiaan yang datang pada umur 17 tahun, yang lebih manis dari tahun tahun sebelumnya, yaitu cinta.

Pukul 12 malam



            Bagimu apa yang paling yang kau ingin lakukan didunia ini? Bertemu dengan artis idola? Berkencan dengan cowok paling tampan disekolah? Atau selebriti yang jadi pusat perhatian? Tapi, kau salah kalau kau bertanya begitu kepadaku karena aku tak menginginkan semua itu. Aku adalah cewek biasa yang tak punya kelebihan apa apa. Setiap hari hanya pergi kesekolah dan kursus, membuat pr sampai belajar keras untuk ulangan. Semua hidupku diserahkan dibidang itu sampai sampai aku tak punya waktu untuk diriku sendiri dan memikirkan apa yang kuinginkan. Hari hari terasa sangat cepat karena aku hanya mengerjakan itu itu saja. Tidur dari jam 10 malam dan bangun pukul setengah 6 pagi. begitu terus selanjutnya, mungkin sampai mati.
“coba baca ini”
“apa?” tanyaku sambil melepaskan selebaran kertas yang ditempelkan oleh Nina dan membacany pelan pelan, “kencan malam anak sekolahan? Apa ini?”
“sekarang sedang musim lho, acaranya seru, ngobrol dengan lawan jenis, nyanyi, dansa, dan..” Nina bermaksud mau menjelaskan selanjutnya, tapi dia lupa dan menatapku seolah aku harus merespon ucapannya, “itukan hobinya kamu, genit! Aku mana mau ikut yang begitu, ajak orang lain aja” Nina menarik tanganku dan memohon, “Carol, ayo dong, kok kamu tega sih? Masa kamu biarin aku pergi sendirian” , aku melepaskan tangannya dengan perlahan, menatapnya tajam dengan pandangan “pergi kau”-ku yang merupakan tatapan andalan, “Nina sayang, tolong ya, aku ini gak tertarik sama yang begituan, pacaran aja aku belum pernah, nanti aku dikira aneh lagi kenapa cewek kaku kayak aku bisa datang ketempat begitu” aku mencoba menjelaskan dan Nina memotong, “padahal aku ingin cewek yang katanya sahabatku ini bisa lebih ceria kalau dapet cowok” aku menatapnya dengan tatapan “itu tidak perlu”-ku lalu ia pergi dengan menggelengan kepala.
            Jam dinding dikamarku sudah menunjukkan pukul 7 malam saat aku baru saja duduk ditempat tidur untuk istirahat setelah melewatkan jadwal ‘ketat’-ku. Setiap hari memang selalu begini, memang agak membosankan, eh sangat membosankan malah. Mungkin aku memang harus ikut kencan malam itu agar kehidupan remajaku sangat berwarna, lho? Apa yang kupikirkan sih? Aku mana cocok ikut yang begituan. Tapi, jujur saja aku memang mau, aku memang belum pernah pacaran, tapi bukan berarti aku belum pernah mencintai. Aku sudah sangat sering mencintai seseorang, namun tak pernah tersampaikan. Aku hanya berani memandangnya dari jauh, dengan senyuman kecil, dan tatapan kosong, lalu lama lama rasa suka itu menjadi samar samar dan akhirnya menghilang, tak pernah sekalipun benar benar menyangkut dihati yang terdalam.
            “Nina!” sapaku dari jauh ketika aku melihatnya dikantin sekolah sedang makan bakso dengan porsi super, Nina memang tukang makan, tapi yang membuatku heran ia sama sekali tidak menggemuk, berbeda denganku yang makan agak banyak saja langsung nambah tiga kilo. “kenapa Carl?”
Sambil garuk garuk kepala aku menjelaskan dengan kaku, “ehm, kemarin kamu cerita kan soal kencan malam itu? Gue mau ikut deh, hitung hitung menyegarkan pikiran” wajah Nina menjadi seperti ketumpahan berjuta juta bunga saat itu, lalu dia memulukku dengan senang, “yang bener carl? Wah makasih ya! Gue bakal minjemin loe baju bagus deh, loe bakal jadi cantik, serius!”
“ssssst! Nina jangan keras keras ah, malu ntar didenger orang” kataku, “tunggu dulu, baju? Maksud kamu?” Nina menatapku dengan tatapan sok imutnya, “itukan disuruh pakai baju formal, gue tau kok loe gak ada gaun mini, jadi gue pinjeminlah” aku terkejut sampai berdiri, “apa? Gaun mini? Serius loe? Astaga, mestinya emang gue muter otak dulu buat yang beginian”
“kenapa?” tanya Nina, “kamu malu? Carol, kamu itu sebenarnya cantik kalo didandanin kok, pasti cocok deh, aku jamin” Nina menenangkan, lalu aku menghela nafas. Sepertinya kehidupan gue yang gak biasa, bakalan gak lama lagi.
            Ntar loe langsung temuin gue didalem ya, gue pakai gaun ungu. Aku meringis sesaat setelah membaca sms dari Nina, lalu melihat diriku dicermin, memakai gaun pendek selutut bewarna krem lembut dengan hiasan pita diperut dan dileher, rambut yang sudah ditata rapi dengan hiasan pita berwarna putih, lalu sepatu cantik yang diperoleh dari meminjam dengan sepupuku. kenapa aku harus melakukan sejauh ini hanya untuk acara konyol itu? Entahlah. Mungkin kalau kau melihatku lebih dari 2 menit kau takkan dapat menahan muntahmu. Lalu akau mengambil tas kecil yang juga berwarna krem dan meninggalkan kamar.
            Tak lebih dari 10 menit aku sudah sampai ditempat itu, tempat parkir sudah dipenuhi mobil mobil berwarna warni anak anak muda. Lalu ketika aku turun dari mobil, astaga! antrian pintu masuknya sangat panjang. Aku tak habis pikir banyak juga orang yang lebih konyol dari Nina. Berarti aku harus menunggu yang membuat kakiku pegal dan make up-ku luntur. Hore! Yang benar saja. Aku melihat keadaan lalu mengendap endap lewat jalur belakang. Dan, aha! Aku bisa melihat pintu kecil dibelakang gedung itu, tak terkunci pula. Pintu itu tersambung ketoilet ruangan pesta, syukurlah. Aku memang agak curang, tapi apa mungkin mereka mau memeriksa pengunjung satu persatu.
            Aku akhirnya keluar dari toilet yang cukup megah dan bersih itu setelah berjalan cukup lama melewati koridornya, akhirnya aku tiba diruangan pesta. Disana banyak remaja remaja yang sedang mengobrol, menyanyi, berdansa, makan, dan lain sebagainya. Ditemani musik klasik yang benar benar menentramkan jiwa, dinding yang dibaluti wallpaper berwarna putih dan motif motif bunga, tiran gorden yang sepanjang 7 meter membentang dari ujung langit langit kelantai. Dan aku bisa menatap tangga yang menuju lantai 2 dan 3, disana aku bisa melihat cahaya cahaya lampu luar, bintang bintang, dan bulan sabit dari jendela. Sangat indah dan menawan.
            Dan karena aku sangat terpaku dengan pemandangan pemandangan itu, tanpa sengaja aku menginjak kaki seseorang, “aduh” teriaknya, spontan aku menoleh. Ternyata itu adalah suara lelaki remaja yang wajahnya tampan, cukup tampan, aku merasa sangat bersalah dan sifat kaku milikku muncul lagi, “ah, maaf.. aku.. s.. sakit ya?” ia menatapku dengan tatapan curiga, tapi tak lama kemudian menjadi tatapan menggoda, “ah, tak apa. Ngomong ngomong siapa namamu?” ia bertanya, “Carol”, kataku “Caroline Angelica” “nama yang bagus, apa hobimu?”
            Tiba tiba terdengar suara kegaduhan yang mendekat, lalu aku sadar kalau beberapa pria yang seperti satpam itu berlari kearahku, memanggil manggilku dengan suara keras. Spontan seluruh orang dalam ruangan melihat kearahku dan aku seperti menjadi selebritis mendadak, “itu dia! Cewek itu masuk tak bayar!” bayar? Oh iya aku lupa, masuk ketempat mewah ini pasti bayar, dan aku sudah seenaknya lewat jalan belakang dan masuk sini, astaga. Sepertinya ada seseorang yang melihatku masuk tadi, spontan aku lari tunggang langgang agar tidak kena hukuman, kuangkat rok gaun miniku dan melepaskan sepatu yang sedikit punya hak tinggi itu. mungkin saat aku lari aku menabrak 5 sampai 6 orang, aku tak perduli lagi, aku hanya lari dan lari, padahal sudah cukup jauh, tapi aku masih bisa melihat mereka mengejarku, terpaksa aku memanjat pohon yang cukup tinggi untuk bersembunyi. Aku cukup mahir memanjat, sejak sd aku selalu memanjat pohon untuk tidur dan memakan apel. Dengan takut takut aku bersembunyi didedaunan pohon itu, sepertinya mereka tak berhasil menemukanku dan akhirnya menyerah. Syukurlah, inikah kehidupan tak biasa yang kuinginkan? Oh bukan. Maaf ya Nina, aku ada sedikit masalah, aku tak bisa datang, besok aku traktir deh sebagai tanda maaf. Nina percaya saja dengan ceritaku, sepertinya dia tak melihat kegaduhan tadi, hari ini hari keberuntungan yang sial.
            Aku baru ingat kalau ada pr mengarang, segera kukeluarkan buku dari tas ranselku, tapi tiba tiba aku melihat kertas yang tak kukenal berada ditumpukan bukuku. Sebuah surat. Segera kubuka dan kubaca.
 Namaku Gery Mandala, maaf tidak sopan mengirimimu surat seperti ini, tapi aku hanya ingin kau tahu, aku sedikit menyukaimu. Aku hanya cowok malang yang kau tabrak beberapa waktu lalu dikencan malam,bagiku saat kau berlari dengan muka cemas itu sangat keren, aku sangat berharap bisa menyapamu, tapi itu tak bisa kulakukan. Aku ingin kenal lebih dekat denganmu, besok jam 12 siang temui aku di taman air mancur, aku akan menyapamu. Bye. Gery.
            Apa apaan ini? Seenaknya saja dia menganggapku yang berlari memalukan itu keren? Minta ketemuan lagi, astaga. Aku sudah berkali kali bertemu dengan cowok seperti ini, aku tahu harus diapakan, didiamkan saja, dan kalau dia masih ngotot, pukul dengan tinju langsung.
            Tiga hari setelah kejadian itu, tak terjadi apa apa. Biasa saja, sepertinya dia tidak terlalu ngotot. Jam dinding sudah menunjuk kepukul 10 malam, saatnya tidur. Aku melihat istana, pegasus, dan putri kupu kupu, lalu aku mendengar suara gitar. Seperti nyata, tidak, mungkin memang nyata. Seketika aku terbangun dari tidurku yang nyaman, dan memang benar, suara gitar itu tetap terdengar. Aku menyadari kalau asal suaranya ada diluar jendela kamarku, dengan takut takut aku membuka nya dan aku melihat  seorang anak lelaki yang belum pernah kutemui  berdiri dengan memegang gitar sambil bernyanyi, memndangku dengan mata penuh harap. Merdu, harus kuakui itu, tanpa terasa aku mengikuti nyanyiannya, bergerak kesana kemari seperti menari, mungkin aku memang terpesona. Lelaki itu memang tak begitu tampan, tapi aku merasa aku bisa dibuat gila olehnya. Tak lama kemudian lagunya berhenti dan gerakanku juga berhenti spontan, seolah sadar dan malu apa yang kulakukan, lalu aku bertanya, “siapa kau? Untuk apa kau menyanyi disini? Kau tahu sekarang jam berapa? Jam 12 malam!. “aku tahu” katanya, “karena kau tak memenuhi ajakanku bertemu jam 12 siang, jadi kubuat jadi jam 12 malam” aku tersentak dengan perkataannya, “jadi, kau?” dia memotong pembicaraanku, “eh, aku ada pidato, mau dengar?” mulutku hanya ternganga dengan tingkah laku anehnya. “selamat malam nona Caroline, namaku Gery Mandala, aku menyukaimu dan aku kesini untuk membuatmu terkesan, mungkin aku memang gila, tapi aku gila karenamu, demikianlah” mulutku kembali menganga, kali ini lebih lebar, begitu banyak pertanyaan yang ingin kutujukan kepadanya, saking banyaknya aku bingung harus bertanya apa. “baiklah nona Caroline, aku menunggu jawabanmu, sampai jumpa”. Gery meninggalkan lapangan rumahku begitu saja dengan tenang. Setelahnya aku dibuat tak bisa tidur olehnya, menyebalkan.
            Dan ternyata benar, Gery datang lagi jam 12 malam ini, membuyarkan mimpi indah dalam tidurku. Kali ini ia tidak menyanyi, tapi ia menari, dengan tarian kuno yang aku tak tahu. Seperti orang gila, diiringi dengan musik yang gila juga, dan bukan hanya itu, ia berkostum pangeran, lalu berteriak kearahku, “aku datang untuk menculikmu, putri!” aku benar benar tak tahu apa isi otaknya. Seperti biasa setiap tengah malam ia datang, kadang berkostum raja, lupin, monster, atau semacam itu. ia selalu menyanyi dan menari hanya ditujukan kepadaku. Ini menjadi rutinitas yang menyenangkan. Tanpa terasa aku jadi mulai menyukainya, ia berani berkorban datang malam begini kerumahku hanya untuk bertigkah seperti orang gila.
            Hanya pada malam itu, akhirnya aku turun dari jendela kamarku yang terletak dilantai dua, karena dibawahnya ada petaan bunga yang empuk, aku bisa langsung melompat. “akhirnya kau turun putri, maukah kau menjadi pendampingku?” tanyanya dengan sok meniru pangeran romantis, “ya aku bersedia, bawa aku ke istanamu, wahai pangeran”. Mungkin bisa dibilang kami jadian, ia pacarku yang pertama, setiap malam kami bernyanyi bersama, mungkin ini baru bisa dibilang kencan malam. Kencankan memang harus dengan orang yang dicintai. Setiap hari aku pulang pergi dengannya kesekolah, sekolahnya tak jauh dengan sekolahku. Ternyata ia anak orang kaya, membuat teman teman yang melihatku dengannya jadi cemburu, tidak termasuk Nina. Hari hariku yang membosankan berubah menjadi berwarna.
            Tapi sudah beberapa hari ini ia tidak datang pada malam hari, saat aku menanyainya ada apa, ia hanya bilang “aku ketiduran” biasanya ia takkan begitu, saat kami sedang berdua, wajahnya seolah mengatakan ia tidak sedang bahagia, gery sangat beda dari biasanya, meskipun kutanyai berkali kali, ia selalu menjawab “tak apa” atau “bukan salahmu”, mungkin ini yang namanya berubah. Laki laki akan merasa sangat penasaran kalau belum mendapatkan apa yang ia inginkan, tetapi kalau sudah didapat ia akan sangat mudah melepaskannya karena sudah menegetahui semua tentang perempuan itu, aku membaca itu dibuku bertema psikologi cinta. Mungkin ini memang akhirnya, aku tak akan pernah menemukan apa yang diinginkan diriku sebenarnya.
            Aku menceritakan semua masalahku pada Nina, ia menjawab begini dengan menggebu gebu “tak boleh begitu! Buat dia benar benar terkesan! Buatlah sesuatu yang tak mungkin bisa ia lupakan denganmu” aku mencerna baik baik kata katanya tapi aku tetap tak bisa menemukan solusi, aku tahu aku benar benar mencintainya tapi aku tak bisa mempertahankannya, apa ini yang bernama, ‘pengecut’? aku memandang jendela tepat dimana aku bisa memandangnya dari sini waktu itu. ia bernyanyi, menari, dan melakukan hal gila lainnya hanya untuk membuktikan dia mencintaiku. Dan itu dia! aku juga harus membuktikan cintaku.
            Maka pada malam itu jam 12, aku berdandan selayaknya seorang putri, berlatih akting juga suara. Aku mendatangi rumahnya menyetel musik keras keras dan menari nari, Gery muncul dari jendelanya dan sangat kaget melihatku, lalu aku berkata, “aku punya pidato, mau dengar?” ia mengangguk, masih dengan wajah yang kaget, “selamat malam tuan Gery, aku datang untuk membuatmu ceria, aku adalah utusan raja yang diperintahkan untuk menyelamatkanmu dari kegelapan, turunlah dan kita jelajahi dunia dengan sinar cahaya” Gery tersenyum dan turun dari kamarnya lalu menghampiriku, “kau? Berani melakukan ini demi aku?” “kenapa kaget?” aku bertanya, “kau saja bisa melakukannya apalagi aku, kita kan sama sama suka” “ya, aku mencintaimu”. Sekarang aku tahu apa yang benar benar kuinginkan, yaitu cinta abadi.